Kanker payudara tetap menjadi salah satu isu kesehatan serius yang mengancam perempuan di Indonesia. Salah satu tantangan utama dalam penanganannya adalah penundaan pemeriksaan, saat penyakit telah mencapai tahap lanjut. Semakin awal kanker payudara terdeteksi, semakin tinggi kemungkinan untuk menerima perawatan yang sesuai. Menariknya, perubahan pada payudara yang sering dianggap sepele sebenarnya bisa menjadi tanda awal yang harus diperhatikan.
Apa itu Kanker Payudara?
Kondisi ketika sel-sel yang ada pada jaringan payudara tumbuh dengan tidak terkendali. Sel ini bisa muncul berupa benjolan, perubahan tekstur kulit, atau perubahan bentuk yang tidak biasa pada payudara. Tetapi, perlu diingat, tidak semua benjolan adalah kanker.
Pasien Kanker Payudara Terlambat Periksa
Keterlambatan dalam diagnosis adalah salah satu faktor yang memengaruhi suksesnya penanganan kanker payudara. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) di tahun 2022 mengungkapkan bahwa hampir 60β70% kasus kanker payudara di Indonesia terdiagnosis saat telah berada di stadium III atau IV. Keadaan ini dapat mempengaruhi rendahnya tingkat kesintasan, penurunan mutu hidup, serta bertambahnya beban biaya perawatan. Sementara itu, Profil Kesehatan Indonesia 2023 yang dirilis oleh Kemenkes RI pada 2024 mencatat bahwa hampir 70% penderita kanker ditemukan pada stadium lanjut. Data ini menunjukkan bahwa deteksi awal masih merupakan tantangan signifikan dalam penanganan kanker di Indonesia. Keterlambatan dalam pemeriksaan tidak selalu disebabkan oleh minimnya akses ke layanan kesehatan. Beberapa orang masih melihat benjolan di payudara sebagai hal yang biasa, menunggu timbulnya rasa sakit, atau merasa khawatir akan kemungkinan diagnosis kanker.
Sebenarnya, kanker payudara tidak selalu menyebabkan rasa sakit di tahap awal. Karena itu, menunggu sampai gejala menjadi sangat mengganggu dapat membuat kesempatan untuk mendapatkan diagnosis lebih awal terlewatkan.
ππ»Baca Juga: Kanker Payudara (Ciri-ciri, Penyebab, Faktor Risiko & Penanganannya)
Tidak Selalu Menyerang Perempuan dengan Riwayat Keluarga
Salah satu pandangan yang masih ada di masyarakat adalah kanker payudara hanya berisiko terjadi pada wanita yang memiliki riwayat keluarga penderita kanker. Sebenarnya, keadaan itu tidak sepenuhnya akurat. WHO tahun 2026 menyatakan bahwa sekitar 80% kasus kanker payudara muncul pada wanita yang tidak memiliki faktor risiko tertentu selain jenis kelamin dan usia. Dengan kata lain, tidak memiliki riwayat kanker di dalam keluarga tidak menjamin seseorang bebas dari penyakit ini.
Selain umur dan gender, risiko kanker payudara juga dapat dipengaruhi oleh obesitas, konsumsi alkohol, paparan radiasi, penggunaan terapi hormon setelah menopause, faktor reproduksi, serta perubahan genetik yang diturunkan, seperti BRCA1 dan BRCA2. Informasi ini mengingatkan bahwa setiap wanita, termasuk yang berada di usia produktif, perlu memiliki kesadaran tentang kesehatan payudara. Pemeriksaan seharusnya tidak hanya dilakukan saat terdapat riwayat kanker dalam keluarga atau ketika keluhan sudah muncul.
Penyebab Kanker Payudara
Penyebab pasti kanker payudara hingga saat ini belum diketahui. Tetapi, kanker payudara memiliki faktor-faktor risiko yang dapat meningkatkan terjadinya kanker payudara:
- Seorang perempuan yang merokok dan terpapar asap rokok (perokok pasif)
- Seseorang yang mempunyai pola makan yang buruk. Sering mengonsumsi makanan tinggi lemak, rendah serat, dan mengandung pengawet atau pewarna.
- Perempuan yang haid pertamanya pada umur kurang dari 12 Tahun
- Perempuan yang melahirkan anak pertama di umur 35 tahun ke atas
- Perempuan yang tidak pernah menyusui anak menggunakan payudara
- Perempuan yang mulai memasuki masa menopouse di atas usia 50 tahun
- Pernah mengalamai operasi payudara yang disebabkan oleh kelainan tumor jinak atau tumor ganas
- Anggota keluarga mempunyai riwayat menderita kanker payudara
Gejala Kanker Payudara
Tidak semua perubahan pada payudara adalah indikasi kanker. Akan tetapi, perubahan yang tidak biasa tetap harus mendapat perhatian dan penilaian medis. Berdasarkan Centers for Disease Control and Prevention (CDC), beberapa tanda kanker payudara yang harus diperhatikan antara lain:
- Teraba benjolan di bagian payudara
- Kulit di payudara mengerut seperti kulit jeruk
- Luka di bagian payudara yang tidak sembuh
- Bagian puting payudara mengeluarkan cairan atau darah
- Adanya cekungan atau tarikan di kulit payudara
WHO juga menyatakan bahwa kebanyakan benjolan di payudara bukanlah kanker. Namun, benjolan yang mencurigakan tetap harus diperiksa untuk mengetahui penyebabnya. Jika ada perubahan pada payudara, pemeriksaan kesehatan harus segera dilakukan. Semakin segera kelainan dievaluasi, semakin cepat tindakan penanganan yang tepat dapat ditetapkan.
Mengapa Kanker Payudara Perlu Dideteksi Sejak Dini?
Deteksi awal memiliki peran krusial dalam meningkatkan kemungkinan sukses dalam penanganan kanker payudara. Saat kanker terdeteksi sebelum berkembang atau menyebar ke jaringan lainnya, opsi pengobatan bisa menjadi lebih efektif. WHO menjelaskan ada dua pendekatan utama dalam mendeteksi kanker payudara lebih awal, yaitu diagnosis awal dan skrining. Diagnosis awal dilakukan dengan mengidentifikasi tanda atau gejala yang muncul, lalu segera melakukan pemeriksaan medis untuk menentukan penyebabnya. Sementara itu, skrining adalah pengecekan pada populasi yang belum menunjukan gejala untuk mendeteksi kemungkinan kanker sebelum adanya kelainan dirasakan.
Kedua metode tersebut berfungsi berbeda, namun keduanya krusial dalam usaha mengurangi tingkat kematian akibat kanker payudara. Kemenkes RI di tahun 2026 melalui Rencana Aksi Nasional Kanker Payudara 2025β2034 menetapkan target pengurangan angka kematian karena kanker payudara sebesar 2,5% setiap tahun. Strategi ini menyoroti signifikansi deteksi awal, diagnosis yang cepat, dan pengobatan yang lengkap.
Langkah Penting Mengenali Kesehatan Payudara
Usaha untuk mengetahui perubahan pada payudara dapat dimulai dengan kebiasaan sederhana yang dilakukan secara teratur. Kemenkes RI mendorong implementasi SADARI dan SADANIS sebagai bagian dari usaha deteksi awal kanker payudara.
1. Periksa Payudara Sendiri (SADARI)
Metode ini bertujuan untuk mengenali kondisi payudara secara mandiri dengan cara dilihat dari segi ukuran, bentuk, ataupun perubahan pada payudara yang mungkin terjadi. Pemeriksaan dapat dilakukan secara berkala setiap bulan. Untuk perempuan yang masih mengalami menstruasi, waktu yang dianjurkan adalah beberapa hari setelah menstruasi berakhir, saat payudara biasanya tidak bengkak atau nyeri.
Berikut apa saja yang perlu diperhatikan saat melakukan SADARI:
- Mengamati perubahan ukuran dan bentuk payudara di cermin.
- Memperhatikan perubahan yang terjadi pada kulit dan puting.
- Periksa seluruh bagian payudara sampai ketiak untuk mendeteksi adanya benjolan.
- Mengamati apakah ada modifikasi yang berbeda dari keadaan biasa.
2. Periksa Payudara Klinis (SADANIS)
Metode ini berguna untuk mendeteksi apakah ada benjolan di area payudara maupun perubahan abnormal pada payudara. Metode ini hanya dilakukan oleh dokter atau tenaga kesehatan untuk dinilai apakah ada kelainan. Pemeriksaan ini bisa menjadi bagian dari deteksi awal, terutama pada kelompok usia yang menjadi target program kesehatan nasional. Kemenkes RI melaksanakan program skrining awal kanker payudara dengan metode SADANIS untuk wanita berusia 30β50 tahun. Jika ada kelainan terdeteksi, petugas kesehatan dapat menyarankan pemeriksaan lebih lanjut sesuai situasi, seperti ultrasonografi (USG) payudara, mamografi, atau biopsi untuk memastikan diagnosis.
Penting untuk diperhatikan bahwa SADARI dan SADANIS tidak menggantikan pemeriksaan diagnostik yang lebih lanjut. Pemilihan jenis pemeriksaan harus disesuaikan dengan usia, gejala, faktor risiko, dan hasil evaluasi tenaga kesehatan.
ππ»Baca Juga: 10 Cara Mencegah Kanker Payudara Secara Alami dan Sejak Dini
Jangan Tunggu Keluhan Muncul, Lakukan Deteksi Dini
Kanker payudara adalah kondisi yang memerlukan perhatian secepatnya. Persentase 60β70% kasus yang terdiagnosis pada stadium lanjut di Indonesia menjadi pengingat bahwa kesadaran untuk mengecek kesehatan masih perlu ditingkatkan. Ketiadaan nyeri, benjolan yang belum tampak jelas, atau riwayat keluarga yang tidak mendukung bukan merupakan alasan untuk mengabaikan kesehatan payudara.
Tindakan sederhana seperti melakukan SADARI secara teratur, berkonsultasi dengan profesional kesehatan, dan mengikuti pemeriksaan sesuai anjuran dapat berkontribusi pada upaya menjaga kesehatan. Laboratorium Medis CITO hadir sebagai rekan kesehatan untuk mendukung pemeriksaan kesehatan dengan profesionalisme. Pemeriksaan dapat dilakukan di laboratorium medis CITO berdasarkan ketersediaan layanan dan saran tenaga medis. Untuk memperoleh informasi tentang layanan pemeriksaan, edukasi kesehatan, dan promosi terkini, akses aplikasi Beranda CITO dan ikuti Kanal WhatsApp CITO. Mari terap kan deteksi dini sebagai komponen dari pola hidup sehat. Merawat kesehatan bukan hanya menunggu tubuh memberikan sinyal, melainkan berupaya melakukan tindakan pencegahan sebelum terlambat.
ππ»Baca Juga: Gen BRCA Penyebab Kanker Payudara Dapat Dideteksi dengan CITOGen BRCA
Β
Innovation For Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Symptoms of Breast Cancer.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Risk Factors for Early Breast Cancer.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Lakukan SADARI untuk Deteksi Dini Kanker Payudara.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia 2023.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Laporan Kinerja Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tahun 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kemenkes Targetkan Turunkan Kematian Kanker Payudara 2,5% Per Tahun Melalui RAN 2025β2034.
- World Health Organization. (2026). Breast Cancer.
Β
