Makanan Penyebab Kanker Mulut yang Perlu Diwaspadai
Ilustrasi makanan penyebab kanker mulut seperti daging olahan, makanan gosong, dan makanan tinggi garam

Kanker mulut sering kali tumbuh tanpa tanda-tanda yang terlihat pada tahap awal. Banyak kasus baru ditemukan ketika luka di dalam mulut tidak kunjung sembuh, muncul benjolan, atau mengalami kesulitan saat menelan. Sebenarnya, selain kebiasaan merokok dan minum alkohol, pola makan juga berkontribusi signifikan dalam meningkatkan atau menurunkan risiko penyakit ini. Perlu dipahami bahwa tidak ada jenis makanan tertentu yang secara langsung memicu kanker mulut. Istilah makanan yang berpotensi menyebabkan kanker mulut yang sering dijumpai dalam berbagai pencarian di internet merujuk pada makanan yang dapat meningkatkan risiko kanker jika dikonsumsi secara berlebihan, terutama bila dikombinasikan dengan kebiasaan merokok, kebersihan mulut yang kurang baik, infeksi tertentu, serta pola hidup yang tidak sehat.

Yuk, simak apa saja makanan penyebab kanker mulut.

👉🏻Baca Juga: Perlu Dicatat, Ini 15 Makanan Pemicu Tumbuhnya Sel Kanker

Mengapa Pola Makan Berpengaruh terhadap Risiko Kanker Mulut?

World Health Organization Tahun 2024 mengatakan bahwa sekitar 30–50% kasus kanker bisa dicegah dengan mengendalikan faktor risiko, di antaranya pola makan yang sehat. Paparan senyawa karsinogen dari jenis makanan tertentu dapat mengakibatkan kerusakan DNA sel jika terus berlangsung dalam waktu yang lama. Selain itu, Centers for Disease Control and Prevention (CDC) tahun 2024 juga menyatakan bahwa konsumsi tinggi makanan olahan, sedikit buah dan sayuran, serta perilaku hidup tidak sehat dapat memperbesar kemungkinan terkena berbagai jenis kanker. Sehingga hanya beberapa jenis makanan penyebab kanker mulut. Tergantung kandungan dan cara mengolahnya.

Makanan yang Menyebabkan Kanker Mulut

Ini adalah jenis-jenis makanan yang sering diasosiasikan dengan peningkatan risiko kanker jika dikonsumsi terlalu sering dan dalam porsi yang berlebihan.

1. Daging Olahan

Sosis, ham, bacon, salami, daging asap, nugget, dan kornet adalah jenis daging olahan yang sering ada dalam hidangan sehari-hari karena praktis dan bisa disimpan lebih lama. Agar menjaga kualitas produk, industri makanan biasanya memanfaatkan nitrit dan nitrat sebagai zat pengawet. Saat dipanaskan pada suhu tinggi atau bereaksi di dalam tubuh, senyawa itu dapat menghasilkan nitrosamin yang dikenal memiliki sifat karsinogenik. International Agency for Research on Cancer (IARC) yang merupakan bagian dari WHO telah mengategorikan daging olahan sebagai karsinogen Golongan 1, yang berarti memiliki bukti yang cukup dapat meningkatkan kemungkinan kanker pada manusia. Karena itu, sebaiknya konsumsi daging olahan dibatasi dan tidak dijadikan hidangan utama setiap hari. Dalam konteks pola makan yang sehat, kategori ini merupakan salah satu makanan yang dapat menyebabkan kanker mulut dan perlu lebih diwaspadai jika dikonsumsi secara berlebihan selama bertahun-tahun.

2. Daging yang Dibakar Hingga Gosong

Aroma khas dari sate, ayam bakar, atau daging panggang pasti menggoda selera. Namun, bagian daging yang terbakar justru menyimpan risiko yang sering kali tidak disadari. Ketika daging dipanggang pada suhu yang sangat tinggi, terutama sampai terbakar, akan terbentuk dua senyawa berbahaya, yaitu Hydrocarbons Aromatik Polisiklik (PAHs) dan Amin Heterosiklik (HCAs). Kedua zat tersebut diketahui dapat merusak materi genetik sel jika terpapar secara berkelanjutan. Semakin gelap permukaan makanan, semakin besar kemungkinan adanya kandungan PAHs dan HCAs yang terbentuk. Risiko juga bertambah jika lemak dari daging jatuh ke api sehingga memproduksi asap yang kembali menempel pada makanan. Metode yang lebih sehat adalah memanggang pada suhu sedang, menghindari bagian yang terbakar, serta meningkatkan penggunaan cara memasak seperti merebus atau mengukus.

3. Ikan Asap Tradisional

Ikan yang diasapi adalah salah satu hidangan tradisional yang sering dinikmati di Indonesia. Walaupun memiliki rasa unik, teknik pengasapan tradisional yang memanfaatkan pembakaran kayu secara langsung dapat menghasilkan PAHs dengan jumlah yang lebih tinggi dibandingkan dengan cara pengasapan modern. Zat tersebut akan melekat pada permukaan ikan selama proses pengasapan dilakukan. Semakin panjang durasi pengasapan dan semakin tebal asap yang dihasilkan, semakin tinggi pula peluang terpapar senyawa karsinogenik. Mengonsumsi ikan asap sesekali tetap diperkenankan sebagai bagian dari pola makan yang seimbang. Namun, sebaiknya hindari konsumsi yang terlalu sering untuk membantu mengurangi paparan terhadap makanan penyebab kanker mulut.

4. Makanan Tinggi Garam

Makanan tinggi garam seperti telur asin, ikan asin, dan makanan instan lainnya, biasanya mengandung zat natrium yang sangat tinggi. Sehingga, dikategorikan sebagai makanan penyebab kanker mulut. WHO merekomendasikan asupan garam tidak leih dari lima gram setiap hari atau satu sendok teh. Konsumsi garam yang terlalu tinggi tidak hanya memperbesar kemungkinan hipertensi, tetapi juga dapat mengakibatkan iritasi jangka panjang pada jaringan sistem pencernaan dan menurunkan kualitas pola makan secara menyeluruh. Kementerian Kesehatan RI pun merekomendasikan pengurangan asupan garam sebagai langkah pencegahan penyakit tidak menular.

5. Makanan yang Diawetkan dengan Garam

Selain ikan asin, berbagai jenis sayuran, telur, dan makanan pendamping yang diawetkan dengan garam juga harus diperhatikan. Proses pengawetan dapat memperpanjang umur simpan makanan, namun dalam situasi tertentu dapat meningkatkan pembentukan senyawa nitrit alami yang berpotensi bertransformasi menjadi nitrosamin. Jika dimakan kadang-kadang, makanan itu tetap aman. Namun, jika menjadi bagian dari menu sehari-hari selama bertahun-tahun, risiko terpapar zat karsinogenik bisa meningkat.

6. Makanan dan Minuman Instan

Makanan penyebab kanker mulut selanjutnya adalah makanan dan minuman instan yang mengandung senyawa akrilamida yang menyebabkan pertumbuhan sel kanker. Senyawanya berbahaya ini muncul saat makanan yang mengandung karbohidrat dan gula dipanaskan secara berlebihan. Selain itu, makanan dan minuman instan sering mengandung berbagai zat, mulai dari pemanis buatan hingga bahan pengawet. Pemanis buatan yang dibuat sendiri sangat berisiko jika dikonsumsi dalam jumlah besar, bahkan penelitian menunjukkan bahwa pemanis buatan pada hewan bisa memicu sel kanker di kandung kemih. Selain pemanis sintetis, terdapat pula bahan pengawet yang digunakan tentunya untuk memastikan makanan atau minuman dapat bertahan lama.

👉🏻Baca Juga: Sering Makan Seblak? Hati-Hati, Bisa Tingkatkan Risiko Kanker Ovarium

7. Makanan Dalam Kaleng

Makanan kaleng tidak berarti membahayakan. Akan tetapi, beberapa produk memiliki kandungan natrium yang tinggi untuk menjaga rasa dan keawetan. Selain itu, beberapa jenis makanan kaleng juga memiliki kandungan gula atau lemak yang cukup tinggi, sehingga jika dikonsumsi secara terus-menerus dapat mengurangi kualitas pola makan. Alternatif yang lebih baik adalah meningkatkan konsumsi makanan segar dan memeriksa informasi nilai gizi sebelum membeli produk kemasan.

8. Makanan yang Berjamur

Jagung, kacang tanah, beras, dan biji-bijian yang disimpan dalam keadaan lembap dapat terinfeksi jamur Aspergillus yang memproduksi aflatoksin. Aflatoksin adalah salah satu zat karsinogen alami yang diakui oleh WHO. Walaupun sering diasosiasikan dengan kanker hati, keberadaan aflatoksin tetap harus diwaspadai sebagai salah satu bentuk paparan zat berbahaya dalam makanan. Simpan bahan makanan di lokasi yang kering dan jangan dikonsumsi jika sudah berjamur.

9. Makanan Tinggi Gula

Kue manis, permen, minuman botolan, dan berbagai hidangan penutup mengandung gula tambahan dengan takaran yang tinggi. Kelebihan konsumsi gula meningkatkan kemungkinan obesitas dan diabetes. Kedua keadaan itu diketahui berkaitan dengan meningkatnya risiko beberapa tipe kanker. Karena itu, mengurangi konsumsi gula juga merupakan elemen dari gaya hidup sehat untuk mengurangi kemungkinan penyakit kronis.

10. Makanan Ultra-Proses

Makanan ultra-proses merupakan produk yang telah melalui serangkaian proses industri dan umumnya mengandung bahan pengawet, pewarna, pemanis, penguat rasa, dan bahan tambahan lainnya. Contohnya mencakup sereal bergula, makanan ringan kemasan, hidangan siap saji beku, minuman soda, serta aneka camilan praktis. Studi dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa asupan makanan ultra-proses yang tinggi terkait dengan peningkatan risiko berbagai penyakit kronis, termasuk beberapa tipe kanker.

Cara Mengurangi Gejala Kanker Mulut

Pencegahan tidak hanya terfokus pada menghindari makanan yang dapat menyebabkan kanker mulut, tetapi juga menerapkan gaya hidup sehat secara keseluruhan. Langkah-langkah yang disarankan meliputi:

  • Meningkatkan asupan buah dan sayuran segar setiap harinya.
  • Mengurangi asupan daging olahan dan makanan sangat diproses.
  • Mengurangi makanan yang terbakar atau terlalu terasap.
  • Menghindari mengonsumsi makanan dan minuman yang sangat panas.
  • Memelihara kebersihan gigi dan mulut.
  • Menghindari merokok dan paparan dari asap rokok.
  • Melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara rutin, terutama jika ada sariawan atau luka mulut yang tidak sembuh lebih dari dua minggu.

👉🏻Baca Juga: Apakah Kanker Penyakit Keturunan? Risiko Genetik yang Perlu Diketahui

Lakukan Pencegahan Kanker Mulut Mulai Sekarang

Mengetahui berbagai makanan penyebab kanker mulut tidak berarti semua makanan itu harus sepenuhnya dihindari. Hal yang paling krusial adalah mengelola frekuensi konsumsi, memilih cara pengolahan yang lebih baik, dan menerapkan pola makan yang seimbang. Sebagai upaya pencegahan, pemeriksaan kesehatan rutin dapat membantu mengidentifikasi berbagai faktor risiko sebelum berkembang menjadi masalah kesehatan yang lebih serius. Informasi terkait layanan uji laboratorium, paket check-up medis, dan penyuluhan kesehatan terkini bisa didapatkan melalui Laboratorium Medis CITO. Untuk mendapatkan informasi mengenai promosi, artikel kesehatan terbaru, dan layanan pemeriksaan terkini, gunakan Aplikasi Beranda CITO dan ikuti WhatsApp Channel CITO agar selalu mendapatkan informasi kesehatan yang tepat dan dapat diandalkan.

 

Innovation For Happiness

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024). What Can Increase Your Risk of Cancer?
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Hari Kanker Sedunia 2024: Close the Care Gap. Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • World Health Organization. (2023). Healthy Diet. Geneva: World Health Organization
  • World Health Organization. (2022). Salt Reduction. Geneva: World Health Organization.

Download APlikasi Beranda CITO Sekarang Juga👇🏻