Vape sering dipandang sebagai pilihan rokok yang lebih kontemporer dan memiliki risiko yang lebih rendah. Berbagai aroma, bentuk yang praktis, dan tidak mengeluarkan asap seperti rokok biasa menjadikan rokok elektrik semakin terkenal, terutama di kalangan anak muda. Tetapi, apakah vaping sesungguhnya lebih aman? Atau sebenarnya Vape Lebih Berbahaya Dibandingkan Rokok? Sebenarnya, vape dan rokok tradisional keduanya memiliki bahaya bagi kesehatan. Meskipun terdapat variasi dalam komposisi dan mekanisme, keduanya dapat menghasilkan eksposur substansi berbahaya yang mempengaruhi tubuh. Agar bisa memahami perbandingan risikonya, penting untuk mengetahui apa yang terkandung dalam vape dan bagaimana zat-zat tersebut berdampak pada kesehatan.
Perbedaan Vape dan Rokok
Rokok tradisional berfungsi dengan membakar tembakau, yang memproduksi asap mengandung ribuan zat kimia. Beberapa di antaranya memiliki sifat beracun dan bisa menyebabkan kanker.
Sementara itu, rokok elektrik atau vape memanfaatkan alat elektronik untuk memanaskan cairan atau e-liquid sehingga menghasilkan aerosol yang kemudian diisap. Cairan itu umumnya mengandung nikotin, bahan pelarut, rasa, serta zat kimia lainnya. Menurut WHO Tahun 2024, aerosol dari vape tidak hanya berupa uap air. Aerosol itu mungkin mengandung bahan tambahan, perisa, dan senyawa kimia yang berisiko bagi kesehatan.
Benarkah Vape Lebih Bahaya Daripada Rokok?
Risiko keduanya dipengaruhi oleh jenis produk, komposisi zat, cara penggunaan, dan lama paparan.
Centers for Disease Control and Prevention (CDC, 2025) menyatakan bahwa aerosol vape biasanya mengandung lebih sedikit zat kimia berbahaya dibandingkan campuran bahan dalam asap rokok biasa. Namun, keadaan tersebut tidak menunjukkan bahwa vape dapat digunakan dengan aman. Rokok tradisional menimbulkan risiko kesehatan yang terbukti signifikan, seperti kanker paru-paru, penyakit jantung, dan masalah pernapasan. Sebaliknya, vape juga dapat mengakibatkan paparan terhadap nikotin, logam berat, partikel kecil, serta zat kimia berbahaya. Kemenkes RI lewat Ayo Sehat (2022) juga mengingatkan bahwa rokok elektrik memiliki efek buruk bagi kesehatan dan tidak bisa dianggap sebagai produk tanpa risiko. Dengan begitu, pernyataan bahwa Vape Lebih Berbahaya Daripada Rokok belum bisa dipastikan secara definitif. Namun, menganggap vape sebagai alternatif yang tidak berisiko juga merupakan pemikiran yang salah.
ππ»Baca Juga: 15 Bahaya Merokok bagi Kesehatan Wanita yang Wajib Diketahui
Bahaya Vape yang Jarang Disadari
Di balik wangi buah, mint, atau efek dingin yang menggoda, vape menyimpan berbagai risiko kesehatan yang sering kali terabaikan.
1. Terdapat Kandungan Nikotin
Salah satu zat yang paling sering ada dalam vape adalah nikotin. Zat ini bisa menyebabkan adiksi dan mengarah pada ketergantungan, walaupun pengguna berpikir hanya memakai dengan frekuensi rendah. Nikotin juga dapat berdampak pada perkembangan otak, terutama pada remaja dan orang dewasa muda. Berdasarkan CDC (2025), pertumbuhan otak terus berlanjut hingga sekitar umur 25 tahun. Paparan nikotin selama periode itu dapat memengaruhi kemampuan mengatur fokus, belajar, suasana hati, dan pengendalian impuls. Hal ini menjadi isu yang krusial karena penggunaan vape biasanya dimulai dari rasa ingin tahu atau dampak lingkungan sosial, lalu berkembang menjadi suatu kebiasaan.
2. Aerosol Vape Mengandung Zat Bahaya
Banyak orang percaya bahwa aerosol vape hanya terdiri dari uap air yang aman. Namun, aerosol yang dihasilkan dapat mengantarkan berbagai zat kimia ke dalam sistem pernapasan.
CDC (2025) mencatat beberapa bahan yang mungkin ada dalam aerosol vape, antara lain:
- Nikotina yang memiliki sifat adiktif.
- Senyawa organik yang mudah menguap atau volatile organic compounds (VOC).
- Logam berat seperti nikel, timah, dan timbal.
- Partikel yang sangat kecil sehingga dapat menembus jauh ke dalam paru-paru.
- Zat kimia tertentu yang berhubungan dengan potensi kanker.
- Diacetyl, zat perasa yang berhubungan dengan masalah paru-paru yang serius.
Menariknya, bahan rasa yang aman untuk dimakan belum tentu aman saat dihirup. Sistem pencernaan dan sistem pernapasan memiliki cara berbeda dalam menangani zat.
3. Kesehatan Paru-Paru Menjadi Terganggu
Uap aerosol dari vape bisa mengganggu saluran pernapasan. Kadar partikel halus dan zat kimia di dalamnya dapat menyebabkan masalah pada jaringan paru-paru. Kemenkes RI (2022) mengungkapkan bahwa komponen tertentu dalam rokok elektrik, seperti glikol dan bahan perasa, dapat terkait dengan iritasi pada saluran pernapasan serta masalah seperti kesulitan bernapas. Di samping itu, WHO (2024) menekankan bahwa rokok elektrik dapat menghasilkan aerosol yang mengandung bahan yang berpotensi membahayakan kesehatan. Risiko ini harus diperhatikan, khususnya bagi orang yang memiliki kebiasaan menggunakan vape secara terus-menerus dalam jangka waktu lama.
ππ»Baca Juga: Kanker Paru-paru: Penyebab, Gejala, dan Langkah Pencegahan
4. Meningkatkan Risiko Penyakit Jantung
Bahan kimia yang ada dalam vape bisa memicu detak jantung memompa lebih cepat, meningkatkan tekanan darah, yang nantinya dapat memicu resiko penyakit jantung. Seseorang yang terpapar asap vape yang mengandung nikotin dapat menimbulkan munculnya berbagai masalah kesehatan, seperti insomnia (ganggu tidur), mengganggu perkembangan otak, hingga memengaruhi daya ingat.
5. Meningkatkan Risiko Kanker
Terdapat beberapa merek vape yang ditemukan ternyata mengandung formaldehida, dimana kandungan tersebut memicu tumbuhnya kanker. Selain itu, apabila cairan nikotin yang digunakan untuk mengisi vape terkena kulit atau bisa saja tidak sengaja terminum oleh anak-anak, dapat menyebabkan keracunan bahkan risiko kematian.
6. Mengganggu Kesehatan Ibu Hamil
Paparan nikotin selama masa kehamilan dapat berdampak negatif pada ibu serta janin. CDC (2025) menyebutkan bahwa nikotin beracun bagi perkembangan janin dan dapat menimbulkan risiko kesehatan selama masa kehamilan. Karena itu, ibu hamil tidak disarankan untuk menggunakan vape. Produk rokok elektrik tetap tidak bisa dianggap sebagai pilihan yang aman selama kehamilan, meskipun tidak menghasilkan asap dari proses pembakaran tembakau.
Vape atau Rokok, Mana yang Sebaiknya Dihindari?
Jika dibandingkan dengan pajanan zat berbahaya, rokok konvensional biasanya memproduksi lebih banyak bahan kimia beracun akibat pembakaran tembakau. Vape mungkin memiliki tingkat paparan zat berbahaya yang lebih rendah dalam beberapa hal, namun tetap berisiko bagi kesehatan. WHO (2024) dan CDC (2025) keduanya menegaskan bahwa rokok elektrik bukanlah produk yang aman. Kandungan nikotin, zat kimia, dan partikel aerosol tetap dapat mempengaruhi tubuh secara negatif. Karena itu, keputusan terbaik untuk kesehatan bukan hanya beralih dari rokok ke vape, tetapi menghindari keduanya. Untuk pengguna yang telah terlanjur ketergantungan nikotin, proses berhenti sebaiknya dilakukan dengan bantuan tenaga kesehatan agar lebih sistematis.
Saatnya Lebih Peduli Pada Kesehatan
Vape Lebih Berbahaya Daripada Rokok tidak dapat dipastikan secara definitif dengan bukti ilmiah yang ada saat ini. Rokok tradisional memiliki risiko kesehatan yang telah terbukti secara luas, sementara vape masih mengandung bahan berbahaya dan dampak jangka panjangnya masih dalam penelitian.
Aspek terpenting adalah menyadari bahwa tidak ada produk tembakau yang benar-benar aman. Menghindari rokok konvensional dan vape adalah tindakan yang baik untuk melindungi kesehatan paru-paru, jantung, serta meningkatkan kualitas hidup di masa depan.
Mulai perjalanan hidup yang sehat bersama Laboratorium Medis CITO. Datanglah ke laboratorium medis CITO untuk memperoleh layanan pemeriksaan kesehatan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Gunakan aplikasi Beranda CITO untuk memudahkan reservasi dan mendapatkan informasi layanan, serta ikuti Saluran WhatsApp CITO untuk mendapatkan informasi promo, layanan pemeriksaan, dan edukasi kesehatan terkini. Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan pencegahan penyakit, melainkan juga mengenai membuat pilihan yang baik sejak awal.
Innovation for Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025). Health Effects of Vaping.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2025). E-Cigarettes (Vapes).
- World Health Organization. (2024). Tobacco: E-cigarettes.
- World Health Organization. (2024). Electronic Cigarettes (E-cigarettes). WHO Framework Convention on Tobacco Control.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Mengenal Bahaya Rokok Elektrik (Vape).
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Bahaya Nge-Vape: Memahami Risiko di Balik Asap Modern
Download Aplikasi Beranda CITO Sekarang JugaππΌ


