Cacar Monyet (Monkeypox), Sebab dan Pencegahannya

Cacar Monyet (Monkeypox), Sebab dan Pencegahan

Penyebaran Monkeypox

Cacar monyet atau disebut monkeypox sedang merebak di beberapa negara. Amerika Serikat, Jerman, Italia, Belanda, Spanyol, hingga Inggris sebagai penyumbang kasus cacar monyet tertinggi yaitu 207 yang dihitung hingga 2 Juni lalu. Dikutip dari WHO, Total sudah terdapat 27 negara yang telah terinfeksi virus penyebab monkey pox ini. Indonesia adalah negara yang belum memiliki kasus infeksi dari cacar monyet. Akan tetapi, masyarakat terus dihimbau untuk menjaga kesehatan untuk terhindar dari infeksi virus ini. Memakai masker adalah salah satu himbauannya, karena virus ini dapat menular melalui udara.

Cacar monyet memiliki gejala yang mirip dengan penyakit cacar (smallpox), demam dan ruam kulit yang melepuh menjadi lenting. Penyakit ini pertama ditemukan pada tahun 1970 di negara Kongo, Afrika Selatan. Penyebab utama dari cacar ini adalah infeksi virus yang disebabkan oleh virus langka dari monyet. Meskipun penyakit ini tergolong penyakit yang sudah lama, terbukti di tahun ini penyakit cacar monyet muncul kembali dengan penularan yang lebih cepat.

Orang yang terinfeksi virus monkeypox akan menunjukkan gejala pertamanya setelah melewati 6-16 hari setelah mendapatkan paparan dari virus ini. Menurut WHO, gejala cacar monyet terbagi dalam dua periode infeksi yaitu pada periode invasi dan periode erupsi kulit.

Baca juga: Hepatitis Akut Misterius, Apakah Benar Disebabkan Vaksin COVID-19?

Periode Invasi

Periode invasi terjadi dalam 0-5 hari setelah terinfeksi virusnya pertama kali. Saat seseorang berada dalam invasi, dengan menunjukkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Demam
  • Sakit kepala
  • Limfadenopati (pembengkakan kelenjar getah bening)
  • Sakit punggung
  • Nyeri otot
  • Lemas (asthenia)

Periode Erupsi Kulit

Periode ini ditandai dengan munculnya ruam pada wajah, yang kemudian menyebar ke seluruh tubuh. Ruam yang terbentuk biasanya diawali dengan bintik-bintik yang berubah menjadi lenting, yaitu kulit yang melepuh berisikan cairan. Setelah lenting-lenting mulai muncul, selanjutnya akan berubah menjadi kerak di kulit. Terakhir, kerak-kerak tersebut akan mengelupas pada tubuh sekitar 3 minggu setelahnya.

Penyebab Cacar Monyet (Monkeypox)

Virus cacar monyet (monkeypox) berasal dari genus Orthopoxvirus dalam keluarga Poxviridae. Beberapa peneliti menyatakan, virus monkeypox berasal dari gigitan hewan liar yang terinfeksi seperti monyet dan tupai. Namun sebagian besar penularannya melalui luka yang terbuka pada kulit, saluran pernapasan, selaput lendir dan air liur. Sedangkan untuk penularan dari orang ke orang lainnya berasal dari droplet yang sudah terkonfirmasi mengidap penyakit ini.

Baca juga: Penyakit Autoimun (Arti, Gejala, dan Pemeriksaannya)

Faktor Risiko

  • Sering melakukan dengan binatang liar
  • Mendapatkan kontak dengan hewan yang terinfeksi monkeypox
  • Mengonsumsi daging dari binatang liar yang tidak steril
  • Merawat orang yang sedang terinfeksi cacar monyet
  • Orang yang bertugas di laboratorium penelitian virus

Tindakan Pencegahan

Belum ada pengobatan khusus yang dapat digunakan untuk mengobati khusus. Namun, virus ini sudah memiliki vaksin yang resmi diakui untuk memperkuat sistem imun terhadap penyakit cacar (smallpox) maupun cacar monyet (monkeypox). Vaksin Jynneos telah disetujui oleh FDA sejak 2019. Sayangnya, vaksin ini belum tersedia merata di berbagai fasilitas kesehatan. Untuk mendiagnosa seseorang terjangkit monkeypox, PCR Test adalah metode yang digunakan. Selain dengan vaksin, penyakit ini tetap dapat dicegah dengan beberapa cara, antara lain:

  • Menghindari kontak dengan binatang liar yang mungkin terinfeksi virus monkeypox
  • Tidak mengonsumsi daging dan olahan makanan dari binatang liar
  • Membatasi kontak dan menjauhkan diri dengan pasien yang sudah terinfeksi
  • Menggunakan masker masih disarankan untuk beraktivitas setiap hari
  • Menjaga pola hidup sehat dan imun yang baik

Ready Dokter: Konsultasi Dokter Online