ANA Test (Anti Nuclear Antibody), Deteksi Masalah Autoimun Tubuh

ANA Test, Deteksi Masalah Autoimun Tubuh

ANA Test atau Anti Nuclear Antibody Test mengukur kadar dan pola aktivitas antibodi pada darah yang melawan tubuh (reaksi autoimun). Immune risk, imun juga memiliki resiko untuk mendapati masalah. Resiko ini juga dapat menciptakan masalah yang berat, berbagai penyakit seperti lupus dapat ditimbulkan jika sistem imun tidak bekerja dengan semestinya. Melihat data dari Kemkes, Prof. Handono Kalim, dkk memperlihatkan angka pengidap lupus di Malang mencapai 0,5% dari total populasinya.

Baca Juga: Penyakit Lupus, Masalah Autoimun yang Buat Radang Kulit & Organ

Masalah Autoimun

Masalah autoimun adalah gejala yang ditimbulkan oleh sistem kekebalan tubuh yang menyerang bagian tubuh atau organ yang sehat. Sistem imun tubuh atau sistem kekebalan tubuh berfungsi untuk melawan dan menjaga tubuh dari bakteri, virus, dan benda asing yang berbahaya bagi tubuh.

Penyakit autoimun secara umum dapat dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut:

  • Autoimun Sistemik, penyakit yang menyerang lebih dari satu organ dan dapat terjadi di seluruh bagian tubuh. Contohnya, Systemic Lupus Erythematosus, Rheumatoid Arthritis, Scleroderma, Sjorgen Syndrome, dan sebagainya.
  • Autoimun Organ Spesifik, penyakit autoimun yang menyerang pada satu organ saja. Contohnya, pada kelenjar tiroid, pankreas, hati, saluran pencernaan, ginjal (kidney), dan sebagainya.

Untuk mendiagnosa autoimun secara umum ini, dapat dilakukan ANA Test (Anti Nuclear Antibody Test). ANA merupakan antibodi yang dapat mengikat dan merusak komponen inti sel dan sitoplasma. Frekuensi (prevalensi) ANA pada penyakit autoimun cukup tinggi, yaitu berkisar 20%-100%. Tes yang dapat dilakukan untuk mendeteksi ANA tersebut adalah tes skrining menggunakan ANA IF dan tes monospesifik menggunakan ELISA.

ANA IF Test

ANA IF adalah tes serologi awal untuk mengetahui adanya kekeliruan sistem imun yang dapat menyebabkan penyakit autoimun. ANA IF Test adalah golden standard untuk pemeriksaan ANA. Tes ini berfungsi untuk mendeteksi keberadaan ANA dalam tubuh pasien yang dicurigai autoimun. ANA IF Test dari EUROIMUN memiliki beberapa keunggulan, di antaranya adalah:

  1. Menggunakan kombinasi subtrat dari sel epitel manusia (sel Hep 20-10) dari jaringan hati kera (primate liver). Penambahan subtrat jaringan hati kera dapat memperjelas pola pada subtrat Hep 20-10 serta membantu mendiagnosis penyakit autoimun lainnya.
  2. Dapat mendeteksi 100-150 antibodi dalam satu kali tes.
  3. Sample serum/plasma.
  4. Hasil ANA IF merupakan pola dan titer yang dapat menentukan kemungkinan penyakit autoimun.

JIka hasil ANA IF Test-nya positif, maka dapat dilanjutkan dengan tes monospesifik (ELISA) untuk menentukan antibodi yang menyebabkan penyakit autoimun. Jenis antibodi yang yang berbeda dapat menyebabkan jenis penyakit autoiumn yang berbeda.

ANA Profile 3 Plus DFS 70

DFS 70 merupakan marker yang penting digunakan sebagai kriteria eksklusi penyakit autoimun sistemik. Hal ini dikarenakan Anti DFS 70 banyak ditemukan pada orang sehat sebesar 22%, selain pada penyakit dermatitis atopik, lalu pada penyakit rematik (11%) dan kanker. Keunggulan dari ANA Profile 3 Plus DFS 70 adalah sebagai berikut:

  1. Tes lanjutan ANA IF  yang lebih spesifik.
  2. Dapat mendeteksi 16 antibodi IgG spesifik dalam satu kali tes.
  3. Sample serum/plasma
  4. Dapat mendeteksi berbagai penyakit. Seperti, Mixed Connective Tissue Disease; Systemic Lupus Erythematosus; Sjorgen Syndrome; Systemic Sclerosis; Primary Billary Sclerosis; Rheumatoid Arthritis; Polimyositis; Dermatitis Atopik atau Rematik.

Sahabat dapat melakukan ANA Test di Laboratorium Klinik CITO yang paling dekat. Atau tanyakan dan konsultasikan dahulu pada Dokter yang telah berpengalaman dengan fitur Ready Dokter. Layanan pesan teks hingga video-call interaktif bisa Sahabat dapatkan.