Kasus stroke pada kelompok usia muda di Indonesia menunjukkan peningkatan. Terdapat sekitar 1 dari 5 pasien stroke berusia di bawah 40 tahun. Dalam dua dekade terakhir, kasus stroke iskemik pada usia muda meningkat dua kali lipat. Penyakit ini juga bisa menyerang kalangan orang yang berusia di bawah 40 tahun, bahkan menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2026, stroke menyerang anak-anak yang berusia 10 tahun.
Stroke menjadi menyebab kematian dan disabilitas tertinggi baik di Indonesia maupun di dunia. Kasus Stroke Iskemik pada usia muda meningkat sebanyak dua kali lipat dalam 20 tahun terakhir. Pemicu utamanya adalah adalah penyakit hipertensi. Tekanan darah tinggi yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko stroke.
Bukan Hanya Penyakit pada Usia Lanjut (Lansia)
Stroke adalah kondisi serius yang perlu mendapatkan perhatian khusus. Penyakit ini terjadi pada saat aliran darah menuju otak terganggu penyebab dari penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah. Sehingga, sel-sel otak tidak memperoleh oksigen dan nutrisi yang cukup sehingga dapat mengalami kerusakan dalam waktu singkat. WHO Tahun 2025 mengatakan bahwa sekitar 11,9 juta kasus stroke di seluruh dunia. Stroke dikatakan juga menjadi pemicu munculnya disabilitas tertinggi ketiga secara global bahkan menyebabkan kematian. Center for Disease tahun 2024 menjelaskan ada satu dari tujuh kasus stroke terjadi paka kelompok usia remaja umur 15-19 tahun. Artinya, hal ini bukan persoalan gangguan kesehatan yang perlu diwaspadai saat menginjak usia lanjut. Tetapi, perlu dicegah sejak dini.
Berdasarkan data Kementrian Kesehatan republik Indonesia tahun 2023 prevelensi stroke sebesar 8,3 per 1.000 penduduk. Oleh karena itu, stroke masih menjadi persoalan dan mendapat perhatian khusus, termasuk dalam upaya pencegahan sejak usia dini.
ππ»Baca Juga: Mengenal Stroke Iskemik sebagai Penyebab Utama Gangguan Fungsi Otak
Mengapa Stroke Bisa Terjadi pada Usia di Bawah 40 Tahun?
Usia adalah salah satu faktor yang berdampak pada risiko stroke. Namun, keadaan kesehatan pembuluh darah dan pola hidup sehari-hari juga berperan penting. CDC (2024) mengungkapkan bahwa peningkatan faktor risiko seperti obesitas, hipertensi, dan diabetes di kalangan usia muda menjadi perhatian dalam kasus stroke. Berbagai faktor yang harus diperhatikan antara lain:
1. Hipertensi
Hipertensi adalah salah satu faktor risiko utama untuk terjadinya stroke. Keadaan ini dapat secara perlahan merusak dinding pembuluh darah, sehingga meningkatkan peluang terjadinya penyumbatan atau pecahnya pembuluh darah di otak. Hipertensi sering kali tidak menunjukkan gejala yang spesifik, sehingga seseorang bisa mengalaminya tanpa menyadari bahwa ia memiliki kondisi itu.
ππ»Baca Juga: Mungkinkah Anak Bisa Mengalami Hipertensi? Kenali Gejalanya
2. Kebiasaan Merokok
Paparan bahan berbahaya dari rokok bisa merusak pembuluh darah, menaikkan tekanan darah, dan mempercepat penyempitan arteri. Kebiasaan merokok juga berhubungan dengan peningkatan risiko penyakit jantung dan pembuluh darah, termasuk serangan stroke. Menghindari merokok dan paparan asap rokok merupakan elemen krusial dalam mempertahankan kesehatan pembuluh darah.
3. Makanan Tinggi Garam dan Lemak
Pola makan yang kaya akan makanan cepat saji, makanan olahan, dan kandungan natrium tinggi dapat meningkatkan peluang terjadinya hipertensi serta masalah metabolisme. Apabila terjadi dalam waktu lama, kebiasaan itu bisa merusak kesehatan pembuluh darah dan meningkatkan kemungkinan terkena stroke.
4. Kolestrol dan Diabetes
Tingkat gula darah yang tidak teratur dapat merusak pembuluh darah, sementara kadar kolesterol LDL yang tinggi dapat menyebabkan terjadinya penumpukan plak di dinding arteri. Penumpukan itu dapat memperkecil aliran darah ke otak dan menambah risiko terjadinya stroke iskemik.
ππ»Baca Juga: Daging Kambing Bikin Kolesterol Naik? Ini Fakta Medis yang Perlu Kamu Tahu
5. Jarang Berolahraga atau Aktivitas Fisik
Kebiasaan duduk dalam waktu lama, minim olahraga, dan pertambahan berat badan bisa memicu berbagai masalah metabolisme. Keadaan ini terkait dengan hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi yang menjadi faktor risiko terjadinya stroke.
6. Waktu Istirahat Kurang
Pola hidup yang tidak teratur dapat memengaruhi kesehatan metabolik dan meningkatkan risiko munculnya faktor-faktor kardiovaskular. Oleh sebab itu, mempertahankan kualitas tidur, mengatur stres, serta melaksanakan pemeriksaan kesehatan secara rutin merupakan bagian dari langkah-langkah pencegahan.
Gejala Stroke Pada Usia Muda
Salah satu faktor yang menjadikan stroke berbahaya adalah gejalanya bisa muncul secara mendadak. Bagi sebagian orang, gejala awal bisa saja dianggap sebagai kelelahan, kurang istirahat, sakit kepala, atau masalah kesehatan ringan lainnya.
- Wajah tidak simetris: Salah satu sisi wajah tampak turun saat tersenyum, yang bisa menjadi tanda awal stroke
- Lengan menjadi lemah: salah satu sisi tubuh yaitu tangan mendadak lemah. Sehingga, sulit mengangkat tangan
- Bicara pelo atau sulit bicara: Setiap kalimat yang diucapkan menajdi tidak jelas, sulit berkata-kata, dan bicara mendadak pelo
- Kebas setengah: Bagian wajah, tangan, atau kaki mendadak kebas atau melemah pada satu sisi tubuh.
- Rabun mendadak: Penglihatan menjadi kabur, berkurang, atau bahkan menghilang di satu atau kedua mata
- Sakit kepala luar biasa: Sakit kepala hebat yang muncul secara tiba-tiba bisa menjadi tanda atau gejala serius dan membutuhkan penanganan khusus
Cara Mencegah Stroke yang Bisa Dilakukan
Pencegahan stroke tidak perlu dimulai dengan perubahan yang besar. Rutinitas sederhana yang dilakukan secara teratur dapat mendukung kesehatan jantung dan sistem peredaran darah.
Berikut cara mencegah stroke yang bisa dilakukan:
- Mengonsumsi makanan sehat. Konsusmi makanan sehat seperti buah, sayur, kacang-kacangan, ikan, dan daging tanpa lemak. Batasi garam dan gula untuk menjaga tekanan darah, kolestrol, serta gula darah. Sehingga risiko stroke berkurang.
- Rutin berolahraga minimal 30 menit sehari dapat membantu mengendalikan tekanan darah, gula darah, dan kolstrol
- Berhenti kebiasaan merokok. Merokok dapat meningkatkan risiko stroke dua hingga empat kali lipat. Nikotin dapat meningkatkan tekanan darah. Sementara karbon monoksida mengurangi kadar oksigen dalam darah.
- Menjaga kualitas tidur. Jaga kualitas tidur selama 7-8 jam sehari dan rutin berolahraga di pagi hari sebagai bagian dari pola hidup sehat untuk emmbantu mencegah stroke.
- Cek kesehatan secara berkala. Lakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala untuk mendeteksi faktor risiko penyakit sejak dini dan menjaga kondisi tubuh tetap sehat.
Setiap tahun, setiap 350.000 orang di Indonesia meninggal akibat stroke. Banyak kasus sebenarnya bisa dicegah dan dampaknya diminimalkan jika ditangani dengan cepat.
ππ»Baca Juga: Makanan Sehat di Hari Raya Imlek: Tetap Nikmat Tanpa Mengorbankan Kesehatan
Jangan Tunggu Usia 40 Tahun untuk Mulai Peduli terhadap Risiko Stroke
Stroke dapat menyerang siapa pun, termasuk orang-orang di bawah usia 40 tahun. Hipertensi, diabetes, kolesterol tinggi, merokok, obesitas, dan minimnya aktivitas fisik adalah beberapa faktor yang bisa meningkatkan risikonya. Berita baiknya, banyak faktor risiko stroke dapat dikelola dengan mengubah gaya hidup dan melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin. Menyadari keadaan tubuh sejak awal adalah langkah krusial untuk memastikan kesehatan di masa mendatang.
Lakukan pencegahan dengan melakukan tes kesehatan di Laboratorium Medis CITO. Pahami keadaan tekanan darah, kadar gula darah, dan profil lipid untuk memantau risiko penyakit kardiovaskular. Dapatkan data tentang layanan evaluasi dan berbagai program kesehatan melalui aplikasi Beranda CITO. Bergabunglah dengan WhatsApp Channel CITO untuk mendapatkan informasi terkini mengenai promo pemeriksaan, layanan kesehatan, dan edukasi kesehatan lainnya.
Innovation For Happiness
REFERENSI
- World Health Organization. (2025). Stroke. WHO Fact Sheets.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Risk Factors for Stroke. CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Stroke Facts. CDC.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Talkshow Anak Muda dan Risiko Stroke Bersama dr. Nurul Rakhmawati, Sp.S MARS. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Cegah Stroke dengan Aktivitas Fisik.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Kenali Risiko Stroke di Usia Muda. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan
