Tahukah kamu? Kabut asap dapat menurunkan kualitas udara dan berdampak pada kesehatan, mulai dari iritasi mata, batuk, hingga gangguan pernapasan. Oleh karena itu, penting untuk menjaga kesehatan dan melindungi diri dari paparan asap. Supaya tubuh tetap sehat dan aktivitas bisa berjalan dengan lancar. Saat kebakaran hutan dan lahan meluas, asap dapat terbawa oleh angin ke daerah yang jauh dari titik api. Dengan kata lain, risiko paparan tidak hanya membahayakan warga yang tinggal di sekitar lokasi kebakaran.
Dengan mengetahui bagaimana kabut asap bisa menganggu kesehatan menjadi langkah utama untuk melindungi diri dan keluarga.
Kabut Asap bahaya Bagi Kesehatan
Kabut asap tidak hanya mengganggu kesehatan lansia, namun berdampak juga ke masyarakat meluas. Bahkan, banyak balita umur 0 hingga 5 tahun terkena ISPA akibat kabut asap. Kabut asap adalah gabungan asap, partikel pencemar, dan gas yang dihasilkan dari aktivitas pembakaran, seperti kebakaran hutan dan lahan. Komposisinya bisa bervariasi, tergantung pada bahan yang terbakar dan situasi lingkungan. Salah satu elemen yang harus diperhatikan adalah PM2.5, yaitu partikel pencemar udara yang berukuran 2,5 mikrometer atau lebih kecil. Dimensinya sangat kecil sehingga dapat menyusup jauh ke dalam paru-paru. Pemaparan partikel ini juga berhubungan dengan masalah pada sistem kardiovaskular. Berdasarkan World Health Organization (WHO) dalam Pedoman Kualitas Udara Global tahun 2021, terpapar polusi udara, terutama partikel halus, berkaitan dengan meningkatnya risiko penyakit pernapasan dan kardiovaskular. Karena itu, kabut asap seharusnya tidak dianggap hanya sebagai penghalang pandangan atau ketidaknyamanan sementara. Hal yang perlu diingat, udara yang tampak bersih belum tentu tidak mengandung polutan berbahaya. Pengawasan kualitas udara masih diperlukan untuk membantu menetapkan langkah-langkah perlindungan yang tepat.
ππ»Baca Juga: Kenali Gas SO2 yang Dihasilkan dari Erupsi Gunung Berapi dan Dampaknya
Dampak Kabut Asap yang Bisa Mengganggu Kesehatan
1. Iritasi Mata, Hidung, Tenggorokan
Salah satu efek kabut asap yang paling jelas terlihat adalah iritasi pada mata dan sistem pernapasan. Paparan asap dapat mengakibatkan mata merah, sakit, berair, hidung terasa tidak nyaman, dan tenggorokan kering atau gatal. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menyatakan bahwa asap dari kebakaran hutan dapat mengganggu mata, hidung, tenggorokan, dan saluran pernapasan. Keluhan bisa timbul saat atau setelah terpapar asap, tergantung pada kadar polutan dan keadaan kesehatan orang tersebut. Walaupun sering dianggap sepele, iritasi yang bertahan lama tetap harus diwaspadai. Meminimalkan paparan dan beralih ke tempat dengan udara yang lebih bersih adalah langkah awal yang bisa diambil.
2. Memperburuk Asma dan Penyakit Paru
Kabut asap dapat memicu kambuhnya serangan pada individu yang menderita asma, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), atau gangguan pernapasan lainnya. Partikel kecil dapat memperburuk peradangan dan iritasi pada saluran pernapasan sehingga keluhan lebih mudah timbul. Tanda-tanda yang harus diwaspadai mencakup batuk yang sering, rasa berat di dada, napas yang berbunyi, dan kesulitan bernapas. Dalam keadaan tertentu, terpapar asap dapat meningkatkan kebutuhan akan pengobatan atau mendorong perlunya pemeriksaan kesehatan. Orang yang menderita penyakit paru kronis harus mematuhi rencana perawatan yang telah ditentukan oleh profesional medis dan meminimalkan paparan asap sebisa mungkin. Jika gejala berubah atau semakin parah, segera lakukan konsultasi medis.
ππ»Baca Juga: Pengobatan dan Pencegahan Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
3. Batuk dan Sesak Napas
Partikel dalam kabut asap dapat menyebabkan iritasi pada saluran pernapasan dan memicu batuk, keluarnya lendir, atau ketidaknyamanan saat bernafas. Pada beberapa individu, paparan bahkan dapat menyebabkan suara napas dan kesulitan bernapas. Risiko ini harus diwaspadai saat beraktivitas di luar ruangan untuk waktu yang lama, terutama ketika konsentrasi asap meningkat. Kegiatan fisik yang intens dapat meningkatkan volume udara yang dihirup, sehingga paparan partikel bisa meningkat. Apabila batuk semakin parah atau napas mulai terasa semakin sesak, segera kurangi paparan dan cari bantuan medis sesuai dengan tingkat keparahan gejalanya.
4. Risiko Kesehatan pada Kelompok Rentan
Anak-anak, lanjut usia, ibu yang hamil, serta individu dengan penyakit jantung atau paru-paru harus lebih memperhatikan kualitas udara. Anak-anak masih dalam tahap perkembangan paru-paru, sementara individu dengan penyakit kronis bisa mengalami memburuknya kondisi ketika terpapar asap. CDC juga menekankan betapa pentingnya perlindungan untuk kelompok yang rentan saat terjadi kebakaran hutan. Mengurangi kegiatan di luar ruangan, mengawasi informasi mengenai kualitas udara, dan mematuhi saran dari pihak berwenang kesehatan merupakan langkah yang harus diutamakan. Jika ada keluhan pernapasan atau keadaan kesehatan semakin parah, seharusnya pemeriksaan medis dilakukan tanpa menunggu.
5. Meningkatkan Risiko Jantung
Pengaruh kabut asap tidak hanya berhubungan dengan paru-paru. Partikel kecil PM2.5 dapat memicu reaksi peradangan dan stres oksidatif yang berdampak pada fungsi pembuluh darah dan sistem kardiovaskular. WHO Tahun Β 2021 menghubungkan paparan PM2.5 dengan bertambahnya risiko penyakit jantung iskemik dan stroke. Risiko dipengaruhi oleh kadar polutan, durasi kontak, serta keadaan kesehatan individu. Hal ini perlu dicermati karena dampak dari polusi udara tidak selalu segera mengakibatkan keluhan. Paparan yang terus-menerus dapat meningkatkan risiko kesehatan jangka panjang, terutama bagi individu dengan penyakit jantung atau faktor risiko kardiovaskular.
ππ»Baca Juga: Jangan Anggap Sepele! Anak Muda Juga Bisa Terkena Jantung
Cara Melindungi Diri dari Kabut Asap
1. Mengenakan Masker yang Tepat
Kenakan masker respirator N95 atau KN95 saat keluar rumah. Pastikan masker tertutup rapat, supaya dapat menyaring partikel halus dengan lebih optimal.
2. Pantau Kondisi Kualitas Udara
Periksa informasi kualitas udara secara berkala dan mengikuti arahan pihak berwenang untuk perlindungan yang tepat. Saat kualitas udara menurun, batasi kegiatan di luar ruangan, terutama olahraga berat atau aktivitas yang memerlukan tenaga besar.
3. Jaga Kualitas Udara dalam Ruangan
Tutup jendela dan pintu saat udara di luar sangat tercemar. Apabila ada, manfaatkan pembersih udara yang dilengkapi filter HEPA sesuai dengan luas ruangan. Hindari tindakan yang meningkatkan polusi di dalam rumah, seperti membakar sampah atau merokok. Pastikan sistem pendingin ruangan tidak menghisap asap dari luar secara berlebihan.
4. Mengurangi Aktivitas di Luar Ruangan
Dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan, dapat mencegah penularan penyakit dan paparan kabut asap. Apabila harus beraktivitas di luar ruangan, kenakan masker yang sesuai dengan pedoman kesehatan.
5. Segera ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan
Periksakan tubuhmu apabila mulai merasa gejala peyakit, gangguan pernapasan, nyeri dada, batuk, pusing, hingga gangguan pada penglihatan
Lindungi Kesehatan dari Kabut Asap
Kabut asap tidak hanya sekadar masalah lingkungan yang mempersempit jarak pandang. Partikel kecil di dalamnya dapat mengganggu saluran pernapasan, memperburuk asma dan penyakit paru-paru kronis, serta meningkatkan risiko masalah jantung. Konsekuensinya dapat lebih parah bagi anak-anak, lanjut usia, wanita hamil, dan individu dengan kondisi medis yang mendahuluinya. Mulailah dengan mengawasi kualitas udara, mengurangi kegiatan di luar saat polusi meningkat, dan mengenakan perlindungan yang sesuai. Jika ada keluhan yang terus-menerus atau semakin parah, segera hubungi tenaga kesehatan.
Untuk mendukung pemantauan kesehatan, kunjungi laboratorium medis CITO untuk mendapatkan informasi tentang layanan pemeriksaan yang sesuai dengan kebutuhan Anda. Gunakan aplikasi Beranda CITO untuk memperoleh informasi tentang layanan dan kemudahan pemesanan. Bergabunglah dengan WhatsApp Channel CITO agar mendapatkan informasi mengenai kesehatan, layanan pemeriksaan, dan penawaran terbaru. Kualitas udara yang baik adalah kepentingan bersama. Menjaga kesehatan dari kabut asap dimulai dengan tindakan sederhana yang berkelanjutan, serta perhatian untuk menjaga lingkungan agar lebih alami untuk semua.
Β
Innovation for Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. (2023). Protecting Workers and the Public from Wildfire Smoke. National Institute for Occupational Safety and Health.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). How Wildfire Smoke Affects Your Body.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Wildfire Smoke and Pregnancy.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Kemenkes Terbitkan Surat Edaran Penanggulangan Dampak Polusi bagi Kesehatan.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Polusi Udara bagi Kesehatan: Dampak, Penyebab dan Pencegahannya.
- World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide.
Download Aplikasi Beranda CITO Sekarang JugaππΌ


