ilustrasi Kenali Gas SO2 yang Dihasilkan dari Erupsi Gunung Berapi dan Dampaknya

Erupsi gunung berapi tidak hanya menghasilkan abu vulkanik. Tetapi juga terdapat gas vulkanik yang mengandung gas dan senyawa berbahaya yang dapat memengaruhi kualitas udara dan mengganggu kesehatan tubuh. Salah satu yang perlu diwaspadai adalah Gas SO2 atau sulfur dioksida. Gas SO2 dapat menyebar seiring dengan arah angin sehingga pengaruhnya tidak selalu terbatas pada area yang berada tepat di sekitar gunung. Dalam situasi tertentu, paparan Gas SO2 dapat mengganggu mata dan sistem pernapasan, terutama pada individu yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma.

Apa itu Gas SO2 dari Erupsi Gunung Berapi?

Gas SO2 atau sulfur dioksida adalah salah satu gas yang bisa dilepaskan ke udara saat gunung berapi meletus. CDC menjelaskan bahwa sulfur dioksida adalah salah satu gas vulkanik yang dapat berdampak pada kesehatan, bersamaan dengan karbon dioksida, hidrogen sulfida, hidrogen klorida, hidrogen fluorida, serta berbagai gas lainnya. Gas SO2 memiliki ciri khas sebagai gas yang tidak berwarna dan memiliki aroma yang tajam.

Sulfur terletak dalam hampir semua material mentah yang belum diolah seperti minyak mentah, batu bara, bijih-bijih yang mengandung metal seperti alumunium, tembaga, seng, besi, dan timbal. Menariknya, paparan gas vulkanik tidak selalu dapat diidentifikasi hanya melalui pengamatan visual. CDC menyatakan bahwa banyak gas vulkanik tak berwarna atau tidak berbau, sehingga keberadaannya tidak selalu memberikan tanda yang jelas.

👉🏻Baca Juga: Infeksi Saluran Pernapasan yang Kerap Menyerang Anak-Anak pada Musim Pancaroba

Gas SO2 Bisa Muncul Saat Gunung Meletus

Kegiatan vulkanik bisa mengeluarkan berbagai jenis material ke udara, termasuk gas. Gas SO2 menjadi salah satu elemen yang perlu dicermati karena dapat terbawa oleh aliran udara dan memengaruhi kualitas udara di daerah tertentu. Banyak gas vulkanik bisa terbawa oleh angin dan menyebar dengan cepat. Akan tetapi, komunitas yang terletak dekat dengan gunung berapi atau di daerah yang dilalui arah angin dapat mengalami paparan pada tingkat konsentrasi yang berpotensi berdampak pada kesehatan.

Gas SO2 ditemukan di bumi dan terdapat senyawa yang sangat kecil di atmosfer. Sumber terbesar berasal dari emisi pembakaran bahan bakar fosil seperti minyak mentah untuk kebutuhan pembangkit listrik dan kendaraan bermotor. Selain itu, sektor logam juga berkontribusi melalui proses peleburan logam (smelting) terutama untuk tembaga, nikel, dan seng.

Kemenkes Tahun 2023 menegaskan bahwa erupsi gunung berapi dapat memperburuk kualitas udara akibat pelepasan debu dan gas.

Dampak Gas SO2 Bagi Kesehatan

1. Iritasi Saluran Pernapasan

Paparan jangka pendek terhadap SO2 bisa menyebabkan perih dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan, hidung, hingga paru-paru.

2. Kesehatan Paru-Paru Terganggu

Hasil reaksi SO2 di atmosfer membentuk partikel mikroskopis yang sangat halus sehingga dapat menyebabkan udara yang terkontaminasi terhirup jauh ke dalam paru-paru.

3. Mata Menjadi Iritasi

Pada konsentrasi yang lebih tinggi, SO2 bisa memperburuk seseorang yang memiliki asma. Hal tersebut karena sulfur memicu sesak napas, nyeri dada, hingga menurunkan fungsi paru-paru secara perlahan.

4. Sesak Napas pada Paparan yang Lebih Tinggi

 Semakin besar konsentrasi Gas SO2 yang terhirup, semakin tinggi risiko gangguan pada sistem pernapasan. Paparan pada level yang tinggi dapat mengakibatkan napas yang cepat, kesulitan dalam bern呼, serta masalah kesehatan yang memerlukan intervensi medis. Situasi ini menjadi semakin berbahaya bagi orang-orang yang memiliki penyakit paru-paru atau jantung.

5. Sakit Kepala

Paparan gas vulkanik seringkali disertai gejala seperti pusing dan sakit kepala, terutama saat terjadi pada konsentrasi tinggi atau di tempat dengan ventilasi yang buruk. Gejala tersebut harus diperhatikan, terutama jika muncul bersamaan dengan kesulitan bernapas atau iritasi pada mata.

👉🏻Baca Juga: Leher Kaku dan Kepala Pusing, Gejala Penyakit Apa?

6. Risiko Tinggi pada Kelompok Rentan

Anak-anak, lansia, penderita asma, dan orang-orang dengan penyakit paru atau jantung kronis memerlukan perhatian lebih saat erupsi terjadi. Keadaan itu dapat memperbesar kerentanan terhadap efek polusi udara dan gas vulkanik. Usaha untuk mengurangi eksposur merupakan langkah krusial dalam melindungi kesehatan kelompok yang rentan selama terjadinya erupsi.

Cara Melindungi Diri dari Bahaya Gas SO2

Saat gunung berapi meletus, tindakan perlindungan yang paling vital adalah mematuhi informasi dan petunjuk dari pihak berwenang. CDC menegaskan bahwa masyarakat harus mematuhi arahan setempat mengenai evakuasi, tempat perlindungan, dan larangan aktivitas di daerah yang terkena dampak.

Adapun cara melindungi diri yaitu sebagai berikut:

1. Batasi Aktivitas Di Luar Ruangan

Apabila kualitas udara menurun atau ada peringatan terkait gas vulkanik, kegiatan di luar ruangan sebaiknya diminimalkan. Paparan akan meningkat saat tubuh lebih dekat dengan sumber gas atau berada di area yang dilalui oleh plume vulkanik.

2. Gunakan APD

Mengenakan masker dan kacamata pelindung saat beraktivitas di luar ruangan untuk melindungi saluran napas dan mata dari paparan.

3. Pantau Informasi

Gas vulkanik bisa terhembus angin. Oleh karena itu, keadaan udara di suatu area dapat berubah meskipun jaraknya tidak begitu dekat dengan pegunungan. Data resmi tentang arah angin, kualitas udara, dan area berbahaya harus menjadi acuan dalam memilih aktivitas.

4. Jaga Kualitas Udara dalam Ruangan

CDC merekomendasikan untuk menutup jendela dan pintu dari luar saat ada paparan gas atau abu vulkanik serta mengurangi masuknya udara luar yang terkontaminasi.

5. Segera Periksa Jika Muncul Gejala

Batuk, iritasi pada mata, kesulitan bernapas, pusing, atau keluhan lain setelah terpapar gas vulkanik harus diperhatikan. CDC merekomendasikan agar menjauhi area terpapar jika gejala mulai muncul dan menghubungi tenaga medis jika keluhan terus berlanjut.

Tingkatkan Kewaspadaan dari Gas SO2

Salah satu hal yang sering terabaikan adalah anggapan bahwa efek letusan hanya berhubungan dengan abu vulkanik yang tampak. Namun, kualitas udara juga bisa berubah karena adanya gas vulkanik yang tidak selalu tampak secara jelas. WHO Tahun 2021 mengklasifikasikan sulfur dioksida sebagai salah satu pencemar udara yang berdampak pada kesehatan. Paparan udara yang tercemar dapat berkontribusi pada berbagai masalah kesehatan, termasuk masalah pernapasan.

Oleh karena itu, kewaspadaan saat erupsi tidak hanya bergantung pada apakah langit tampak berkabut atau jika abu mulai jatuh. Data resmi mengenai mutu udara dan aktivitas vulkanik sangat penting dalam menetapkan tingkat kewaspadaan.

 

Innovation For Happiness

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Health Effects of Volcanic Air Pollution. CDC.
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Volcanoes and Your Safety. CDC.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2023 tentang Peraturan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 2014 tentang Kesehatan Lingkungan. Kementerian Kesehatan RI.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Dampak Pencemaran Udara terhadap Kesehatan. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
  • World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Particulate Matter (PM2.5 and PM10), Ozone, Nitrogen Dioxide, Sulfur Dioxide and Carbon Monoxide. WHO.
  • World Health Organization. (2021). WHO Global Air Quality Guidelines: Executive Summary.