Ilustrasi penyakit lupus sebagai penyakit autoimun yang menyerang tubuh sendiri

Tubuh memiliki sistem kekebalan yang bermanfaat untuk menjaga dan melindungi tubuh dari berbagai macam penyakit dan zat berbahaya. Namun, dalam situasi tertentu, sistem pertahanan ini dapat kehilangan kemampuan untuk membedakan antara benda asing dan jaringan tubuhnya sendiri. Salah satu penyakit yang bisa muncul adalah lupus.

Lupus adalah penyakit autoimun dimana sistem imun menyerang tubuh sedniri, bukan melindunginya. Penyakit ini bisa menyerang organ dalam, sendi, kulit, dan muncul secara tiba-tiba.

Sistem Imun Bisa Menyerang Tubuh Sendiri

Lupus merupakan penyakit autoimun yang terjadi ketika sistem imun mengalami masalah dan menyerang sel, jaringan, serta organ tubuh sendiri. Dalam Lupus Eritematosus Sistemik, reaksi peradangan akibat respons imun yang tidak wajar dapat muncul di berbagai bagian tubuh. CDC menyatakan bahwa SLE adalah tipe lupus yang paling banyak ditemui. Kondisi ini bersifat kronis dan bisa memengaruhi kulit, sendi, otak, paru-paru, ginjal, pembuluh darah, serta sistem tubuh lainnya. Tingkat keparahan lupus bisa bervariasi pada setiap individu, mulai dari yang ringan hingga yang berpotensi fatal. Hingga kini, penyebab definitif lupus masih belum dapat dipastikan. CDC menyatakan bahwa perkembangan lupus mungkin terkait dengan kombinasi faktor lingkungan, sejarah keluarga atau genetik, dan faktor hormonal. Memiliki anggota keluarga yang menderita lupus dapat meningkatkan kemungkinan, meskipun mayoritas orang dengan lupus tidak memiliki anggota keluarga yang juga menderita penyakit yang sama.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Penyakit Lupus, Masalah Autoimun yang Sebabkan Peradangan Kulit & Organ

Fakta Lupus yang Perlu Kamu Ketahui

Penderita lupus bisa hidup normal, bila didiagnosis dan ditangani dengan tepat sedini mungkin. Selain itu, lupus tidak menluar dan bukan termasuk golongan penyakit kanker. Lupus dapat memengaruhi berbagai organ tubuh. Sehingga, gejalanya berbeda pada setiap orang. Lupus termasuk penyakit autoimun yang dapat berlangsung dalam waktu lama. Penanganan yang tepat dapat membantu menjaga lupus tetap terkendali. Penyakit ini dapat dialami siapa saja. Tetapi, paling banyak menyerang wanita usia produktif. Paparan sinar matahari yang berlebihan dapat memicu kekambuhan lupus pada sebagian penderita.

Gejala Lupus yang Sering Dianggap Sepele

Gejala lupus bisa tampak mirip dengan masalah kesehatan umum. Tubuh cepat lelah, contohnya, seringkali dipandang hanya sebagai dampak dari tidur yang tidak cukup atau kegiatan yang terlalu padat. Nyeri sendi juga bisa dianggap sebagai masalah umum. Namun, ketika sejumlah keluhan muncul secara berulang atau bersamaan, keadaan tersebut membutuhkan perhatian tambahan. Berikut beberapa gejala yang perlu diwaspadai adalah:

  • Sendi sering sakit, nyeri, bengkak lebih dari 3 bulan
  • Kelainan darah seperti anemia, leukositapenia atau trombositopenia
  • Demam yang tidak memiliki penyebab yang jelas dan terjadi berulang.
  • Terdapat ruam kemerahan berbentuk kupu-kupu yang sayapnya melintang di pipi
  • Kulit lebih peka terhadap sinar matahari yang diterima.
  • Terdapat protein pada pemeriksaan urin
  • Sariawan yang berulang kali.
  • Kesulitan bernapas atau rasa sakit di dada saat menarik napas dalam.
  • Perubahan pada warna atau sensasi jari tangan dan kaki, seperti menjadi pudar atau kehitaman serta mengalami kesemutan.
  • Keluhan yang berhubungan dengan ginjal atau organ lainnya.

Lupus Lebih Banyak Ditemukan pada Perempuan

Lupus bisa terjadi pada siapa saja, termasuk pada anak-anak. Namun, penyakit ini lebih sering terlihat pada perempuan. CDC Tahun 2024 memperkirakan bahwa sekitar 90% individu yang menderita lupus adalah perempuan, dengan risiko tertinggi terjadi pada perempuan berusia 15 hingga 44 tahun. Keadaan tersebut juga berkaitan dengan situasi di Indonesia. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2024 menyatakan bahwa lupus lebih umum terjadi pada wanita usia reproduksi, yaitu antara 15–45 tahun. Akan tetapi, kenyataan ini tidak menunjukkan bahwa lupus hanya diderita oleh perempuan. Baik pria maupun anak-anak dapat mengalami lupus. Oleh karena itu, identifikasi gejala tetap krusial tanpa mempertimbangkan jenis kelamin maupun usia.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Gangguan pada Sistem Kekebalan Tubuh yang Harus Diwaspadai

Apakah Lupus Bisa Disembuhkan?

Saat ini belum ada pengobatan yang dapat menyembuhkan lupus secara definitif. Akan tetapi, lupus dapat diatasi dan dikelola melalui pengobatan serta penyesuaian gaya hidup yang sesuai dengan keadaan setiap individu. Pengelolaan lupus disesuaikan dengan gejala serta kebutuhan pasien. Perawatan bisa melibatkan obat yang menekan fungsi sistem imun, obat untuk menurunkan peradangan, atau terapi biologis tertentu. Aspek yang juga krusial adalah melakukan pemantauan rutin dan menjalankan rencana perawatan yang disarankan oleh profesional kesehatan. CDC mencatat bahwa diagnosis yang terlambat, kurangnya akses ke layanan kesehatan, serta ketidakpatuhan terhadap rencana pengobatan dapat memperburuk dampak lupus.

Cara Mencegah Lupus

1. Lindungi Tubuh dari Eksposur Terlalu Banyak Sinar Matahari

Paparan berlebihan sinar matahari harus diperhatikan, khususnya bagi individu yang menderita lupus atau memiliki risiko mengalami gejala yang dipicu oleh sinar matahari. Kementerian Kesehatan RI menyatakan bahwa terlalu banyak terpapar sinar matahari adalah salah satu faktor lingkungan yang bisa berhubungan dengan lupus. Perlindungan dapat dilakukan dengan mengurangi paparan sinar matahari yang sangat terik, mengenakan pakaian pelindung, dan menggunakan tabir surya jika diperlukan.

2. Jangan Merokok

Merokok tidak hanya memengaruhi paru-paru. Kebiasaan ini juga bisa memperburuk kesehatan secara keseluruhan. Kementerian Kesehatan RI menyarankan untuk menghindari atau menghentikan perilaku merokok pada penderita lupus karena dapat memperparah keadaan penyakit. Oleh karena itu, menghentikan kebiasaan merokok adalah tindakan pencegahan yang tetap penting, baik untuk individu sehat maupun bagi mereka yang sudah mengidap lupus.

3. Terapkan Pola Makan Seimbang dan Bergizi

Tidak ada jenis makanan tertentu yang terbukti mampu menghindari lupus. Akan tetapi, pola makan yang bergizi dan seimbang berperan penting dalam menjaga kesehatan tubuh serta mendukung keadaan kesehatan secara keseluruhan.
Kementerian Kesehatan RI menyarankan pola makan bergizi, olahraga sesuai kemampuan, istirahat yang cukup, serta manajemen stres sebagai bagian dari gaya hidup sehat bagi penderita lupus.

4. Kebiasaan Melakukan Kegiatan Fisik

Aktivitas fisik tidak perlu selalu melibatkan olahraga yang berintensitas tinggi. Bersepeda santai, berjalan kaki, melakukan peregangan, atau aktivitas fisik lain yang cocok dengan kondisi tubuh dapat menjadi opsi. CDC merekomendasikan olahraga sebagai salah satu kebiasaan sehat untuk individu yang menderita lupus. Untuk individu yang sudah menderita lupus, tipe dan tingkat aktivitas sebaiknya diatur sesuai dengan kondisi dan saran dari tenaga medis, terutama saat mengalami flare.

5. Cukup Beristirahat dan Atur Stres

Tubuh memerlukan waktu untuk beristirahat agar dapat menjaga fungsi yang maksimal. CDC menambahkan istirahat yang cukup sebagai salah satu elemen dari perilaku sehat dalam lupus. Pengaturan stres juga krusial. Kegiatan kerja yang padat, tidur yang kurang, dan stres psikologis dapat membuat tubuh semakin lelah. Merawat pola tidur, menyediakan waktu untuk relaksasi, melakukan kegiatan yang menyenangkan, serta mencari bantuan saat dibutuhkan bisa menjadi elemen dari kehidupan yang lebih sehat.

Yuk, Lebih Peka terhadap Sinyal Tubuh Sebelum Terlambat

Lupus adalah penyakit autoimun kronis yang dapat menyerang berbagai organ dan memiliki gejala yang sangat beragam. Kelelahan ekstrem, nyeri sendi, ruam kulit, demam berulang, rambut rontok, hingga keluhan pada organ tertentu dapat menjadi tanda yang perlu dievaluasi, meskipun gejala tersebut tidak selalu berarti lupus. Semakin baik pemahaman mengenai lupus, semakin cepat pula langkah yang dapat diambil ketika muncul tanda yang mencurigakan. Jangan menunggu tubuh memberikan sinyal yang lebih berat untuk mulai peduli terhadap kesehatan. Untuk mendapatkan informasi pemeriksaan dan layanan kesehatan, kunjungi Laboratorium Medis CITO. Akses juga aplikasi Beranda CITO untuk berbagai kemudahan layanan, termasuk informasi dan akses pemeriksaan. Informasi mengenai layanan, edukasi kesehatan, serta promo terbaru juga dapat diperoleh melalui WhatsApp Channel CITO.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Imunoglobulin: Benteng Pertahanan Tubuh dari Infeksi

Β 

Innovation for Happiness

Β 

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. 2024. Lupus Basics. Atlanta: CDC
  • Centers for Disease Control and Prevention. 2024. People with Lupus. Atlanta: CDC
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Kemenkes Tingkatkan Upaya Deteksi Dini Lupus Melalui Program SALURI. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Mengenal Lupus, Penyakit Seribu Wajah. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. Mengenal Penyakit Lupus. Jakarta: Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan, Kementerian Kesehatan RI.
  • World Health Organization. World Health Statistics 2023: Monitoring Health for the SDGs, Sustainable Development Goals. Geneva: WHO.