ilustrasi Tulang Keropos Tidak Terasa? Waspada Risiko Osteoporosis

Osteoporosis merupakan kondisi dimana kepadatan suatu tulang berkurang. Sehingga kondisi tulang menjadi lebih rapuh dan mudah patah. Penyakit ini kerap muncul tanpa adanya gejala. Kepadatan tulang dapat berkurang secara bertahap hingga tulang menjadi rentan dan mudah patah, bahkan oleh benturan kecil. Keadaan ini menandakan bahwa risiko osteoporosis harus diperhatikan mulai usia produktif, bukan hanya saat memasuki usia lanjut.

Risiko osteoporosis disertai dengan rusaknya susunan tulang yang mengakibatkan penurunan kekuatan tulang dan pengeroposan yang menyebabkan tulang mudah patah.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Kenali Gejala Awal Kanker Tulang dan Cara Penanganannya Sejak Dini

Osteoporisis Sering Tidak Disadari

Osteoporosis adalah keadaan di mana densitas dan mutu tulang berkurang sehingga tulang menjadi lebih mudah patah. Tulang sejatinya adalah jaringan yang hidup dan terus menjalani proses pembentukan serta penguraian. Saat penguraian tulang terjadi lebih cepat dibanding pembentukannya, kekuatan tulang bisa berkurang secara bertahap. WHO Tahun 2024 menyatakan bahwa kerapuhan tulang terkait dengan penurunan densitas mineral dan perubahan struktur jaringan tulang, yang mengakibatkan tulang menjadi lebih rentan terhadap patah. Risiko itu tidak hanya dipengaruhi oleh umur, tetapi juga oleh keadaan kesehatan, kebiasaan harian, dan riwayat patah tulang yang pernah ada.

Hal yang perlu diperhatikan, risiko osteoporosis kadang tidak menimbulkan rasa sakit saat kepadatan tulang mulai menurun. Beberapa orang baru menyadari kondisi mereka setelah mengalami fraktur tulang karena terjatuh atau cedera minor. Dengan demikian, tidak adanya keluhan bukanlah jaminan bahwa kesehatan tulang selalu berada dalam keadaan optimal.

Jenis Osteoporosis

Risiko Osteoporosis tidak hanya untuk orang tua usia lanjut atau yang sudah mengalami menopouse. Tetapi, juga usia muda akibat berbagai penyebab. Risiko yang dialami masing-masing generasi berbeda jenisnya. Menurut Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2024, terdapat 2 jenis osteoporosis. Adapaun penjelasannya sebagai berikut:

  • Osteoporosis Sekunder

Osteoporosis sekunder diakibatkan oleh kondisi medis tertentu atau bahkan bisa juga akibat intervensi bedah atau penggunaan obat yang mempercepat kehilangan massa tulang. Osteoporosis sekunder dapat dijumpai pada hampir dua pertiga laki-laki, dan lebih dari setengah perempuan sebelum menopause, dengan berbagai penyebab, yang mengakibatkan pengurangan kepadatan tulang dan peningkatan risiko patah tulang. Kondisi ini harus diperhatikan dan segera dilakukan tindakan pencegahan serta pengobatan yang lebih efektif.

  • Osteoporosis Primer

Menopouse muncul di usia 50-an, hormon estorgen Perempuan akan muncul 2 hingga 3 tahun 2-3 tahun sebelum munculnya menopause, dan akan berlanjut sampai 3-4 tahun setelah menopause. Masa tulang akan mengalami penurunan 1-3 persen dalam 5-7 tahun pertama setelah menopause. Dan saat berusia 70 tahun, proses penipisan akan menurun, tetapi tidak akan berhenti, hingga akhirnya total seseorang wanita akan kehilangan 35-50 persen dari tulangnya di usia tua. Banyak orang percaya bahwa osteoporosis hanya dialami oleh orang yang berusia lanjut atau wanita setelah menopause, yaitu osteoporosis primer ini.

Perlu menjadi catatan bahwa cara penanganan kedua jenis Osteoporosis tidak jauh berbeda. Karena penyebab berbeda, perlu penanganan khusus untuk mengidentifikasi penyebab-penyebabnya.

Faktor yang Meningkatkan Risiko Osteoporosis

Risiko osteoporosis tidak hanya ditentukan oleh faktor usia. Berbagai elemen berhubungan dengan keadaan biologis, latar belakang kesehatan, konsumsi gizi, sampai pola sehari-hari. Beberapa faktor sebenarnya tidak dapat diubah, namun faktor lainnya dapat diatur melalui modifikasi gaya hidup dan pemantauan kesehatan. Beberapa faktor yang perlu dicermati berdasarkan Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran untuk Tata Laksana Osteoporosis dari Kemenkes RI tahun 2023 dan data WHO tahun 2024.

  • Adanya Osteoporosis dalam riwayat keluarga. Riwayat patah tulang di dalam anggota di dalam anggota keluarga, menjadi pertimbangan untuk menentukan risiko Osteoporosis.
  • Perubahan hormon. Perubahan hormon esterogen setelah mengalami masa menopouse dapat mempercepat kehilangan massa tulang, sedangkan gangguan hormon tertentu pada laki-laki maupun perempuan juga dapat memengaruhi kekuatan tulang.
  • Kurangnya kalsium dan vitamin D. Kalsium diperlukan untuk membangun dan menjaga struktur tulang, sementara vitamin D mendukung penyerapan kalsium dalam tubuh.
  • Kurangnya olahraga atau aktivitas fisik. Kebiasaan duduk dalam waktu lama dan kurang berolahraga dapat mengurangi rangsangan yang diperlukan untuk mempertahankan kekuatan tulang dan otot.
  • Merokok dan mengonsumsi alkohol. Kedua kebiasaan ini merupakan faktor yang dapat meningkatkan kemungkinan tulang menjadi rapuh dan mengalami patah.
  • Berat badan terlalu rendah. Berat badan rendah berhubungan dengan peningkatan risiko osteoporosis, terutama bila disertai kekurangan gizi atau masalah makan.
  • Penyakit tertentu yang membutuhkan penggunaan obat jangka panjang. Masalah penyerapan nutrisi, penyakit tertentu, dan penggunaan obat-obatan seperti kortikosteroid dalam waktu lama dapat berdampak pada kepadatan tulang.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Apakah Kolang-Kaling Baik Untuk Kesehatan Tulang? Ini Penjelasannya

Gejala Osteoporosis

Risiko Osteoporosis meningkat seiring bertambahnya usia, terutama pada perempuang yang mengalami masa menopouse. Adapun gejala yang ditimbulkan dari Osteoporosis sebagai berikut:

  • Ditemukan perubahan khas pada tulang melalui pemeriksaan radiologi oleh dokter.
  • Adanya rasa tidak nyaman pada sendi yang mengalami pengeroposan.
  • Tinggi badan berkurang atau postur tubuh menjadi membungkuk
  • Patah tulang akibat benturan atau cedera
  • Mulai muncul rasa nyeri di area punggung akibat tulang belakang patah.

Cara Mengurangi Risiko Osteoporisis

1. Cukupi Kebutuhan Nutrisi Tulang

Pola makan seimbang yang mengandung kalsium, vitamin D, protein, dan nutrisi lain yang diperlukan tubuh. Kalsium dapat diperoleh dari susu dan produk-produk olahannya, ikan yang bisa dimakan beserta tulangnya, serta beberapa jenis sayuran. Vitamin D mendukung penyerapan kalsium, oleh karena itu penting untuk memperhatikan kecukupan keduanya. Penggunaan suplemen seharusnya sesuai dengan kebutuhan dan rekomendasi dari tenaga kesehatan, bukan dilakukan secara berlebihan.

2. Olahraga Secara Rutin

Jalan kaki, latihan kekuatan, dan aktivitas yang melatih keseimbangan minimal 30 menit setiap hari dapat merangsang ketahanan tulang dan otot tulang. Centers for Disease Control and Prevention (CDC) pada 2024 menjelaskan bahwa aktivitas fisik teratur memberikan manfaat bagi kesehatan tulang dan membantu mengurangi risiko jatuh. Jenis latihan perlu disesuaikan dengan kondisi fisik dan kemampuan masing-masing individu.

3. Menghindari Rokok, Alkohol, dan Kafein

Berhenti merokok, mengurangi konsumsi alkohol, dan minuman yang mengandung kafein. Karena, hal tersebut dapat memepercepat penurunan masa tulang.

4. Cek Kesehatan Berkala

Pantau kesehatan tulangmu dengan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala. Lakukan tes kepadatan tulang (DXA) secara berkala, terutama setelah menopouse atau pada usia lanjut.

5. Mengurangi Risiko Jatuh

Kekuatan tulang bukanlah satu-satunya elemen yang mempengaruhi kemungkinan terjadinya patah tulang. Faktor lingkungan dan keseimbangan tubuh juga memberikan dampak.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Ingin Tulang Kuat? Jangan Lewatkan Pemeriksaan Vitamin D 25 OH

Jangan Tunggu Tulang Rapuh

Risiko osteoporosis dapat muncul tanpa terasa, namun usaha untuk menjaga kesehatan tulang dapat dimulai pada masa usia produktif. Pola diet seimbang bergizi, olahraga secara teratur, menjauhi rokok, serta mengenali faktor risiko adalah langkah-langkah penting dalam menjaga kekuatan tulang.
Jangan biarkan cedera menjadi alasan untuk memeriksa kesehatan. Datanglah ke laboratorium medis CITO untuk memperoleh informasi tentang layanan pemeriksaan yang ditawarkan dan diskusikan kebutuhan pemeriksaan sesuai dengan keadaan kesehatan.

Masuk ke aplikasi Beranda CITO untuk mendapatkan informasi mengenai layanan, reservasi, dan penawaran pemeriksaan kesehatan. Ikuti WhatsApp Channel CITO untuk memperoleh informasi terbaru tentang kesehatan, layanan pemeriksaan, dan promo terkini. CITO Sahabat Sehat, mulailah upaya menjaga kesehatan tulang hari ini untuk meningkatkan kualitas hidup yang lebih baik di masa depan.

Β 

Innovation For Happiness

 

REFERENSI
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024, diperbarui 2026). Health Benefits of Physical Activity for Adults.
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Facts About Bone Density (DEXA Scan).
  • Centers for Disease Control and Prevention. (2026). Preventing Falls and Hip Fractures.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Diet dan Olahraga pada Penderita Osteoporosis. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Pemenuhan Nutrisi sebagai Upaya Pencegahan Terjadinya Osteoporosis. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/Menkes/2171/2023 tentang Pedoman Nasional Pelayanan Kedokteran Tata Laksana Osteoporosis.
  • World Health Organization. (2024). Fragility Fractures.