Belakangan ini, istilah Hantavirus kembali menjadi perhatian global setelah sejumlah kasus dilaporkan di beberapa negara. Meski belum sepopuler COVID-19 atau influenza, Hantavirus termasuk infeksi serius yang tidak boleh dianggap sepele. Organisasi Kesehatan Dunia menyebutkan bahwa infeksi Hantavirus dapat menyebabkan gangguan paru hingga gagal ginjal dengan tingkat fatalitas yang cukup tinggi pada beberapa jenis kasus. Di tengah mobilitas tinggi, gaya hidup, hingga meningkatnya aktivitas di lingkungan tertutup atau kurang higienis, risiko paparan virus dari hewan pengerat seperti tikus menjadi isu kesehatan yang semakin relevan. Karena itu, pemahaman mengenai Hantavirus menjadi langkah penting untuk meningkatkan kewaspadaan sekaligus mencegah komplikasi yang lebih berat.
Apa Itu Hantavirus?
Hantavirus merupakan kelompok virus yang ditularkan oleh hewan pengerat, terutama tikus. Virus ini dapat menginfeksi manusia melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang terkontaminasi. Dalam beberapa kasus, penularan terjadi saat partikel virus terhirup melalui udara di ruangan tertutup yang terpapar kotoran tikus. Menurut World Health Organization (WHO) tahun 2026, Virus ini terbagi menjadi dua kelompok penyakit utama, yaitu:
- Hantavirus Cardiopulmonary Syndrome (HCPS/HPS), yang menyerang paru-paru dan jantung
- Hemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS), yang lebih banyak menyerang ginjal dan pembuluh darah
Kasus Hantavirus lebih banyak ditemukan di wilayah Amerika, Eropa, dan Asia. Beberapa strain tertentu, seperti Andes virus di Amerika Selatan, bahkan dilaporkan memiliki kemungkinan penularan pada manusia dalam kontak erat tertentu.
👉🏻Baca Juga: Hewan di Sekitar Rumah Bisa Menjadi Sumber Penyakit? Kenali Faktanya
Penyebab Hantavirus yang Jarang Disadari
Banyak orang mengira paparan tikus hanya terjadi di lingkungan kumuh. Faktanya, virus ini juga dapat ditemukan di area yang terlihat bersih tetapi memiliki ventilasi buruk atau jarang dibersihkan. Beberapa kondisi yang meningkatkan risiko paparan hantavirus antara lain:
- Membersihkan gudang atau loteng yang lama tidak digunakan
- Menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering
- Menyimpan makanan tanpa wadah tertutup
- Lingkungan rumah dengan populasi tikus tinggi
- Aktivitas outdoor seperti camping atau pertanian
- Ruangan lembap dan minim sirkulasi udara
Hal yang sering tidak diketahui adalah menyapu atau menggunakan vacuum cleaner pada kotoran tikus yang justru dapat membuat partikel virus beterbangan di udara. WHO menyarankan area terkontaminasi dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan untuk mengurangi risiko aerosol virus.
👉🏻Baca Juga: Musim Sakit? Apa Itu dan Kenapa Tubuh Jadi Lebih Rentan
Gejala Hantavirus yang Sering Dianggap Sepele
Salah satu tantangan utama adalah gejalanya pada tahap awal sering menyerupai flu biasa. Akibatnya, banyak kasus terlambat terdeteksi. Gejala awal meliputi:
- Demam
- Nyeri otot
- Sakit kepala
- Mual dan muntah
- Nyeri perut
- Tubuh terasa lemas ekstrem
Pada kondisi yang lebih berat, hantavirus dapat berkembang cepat menjadi:
- Sesak napas
- Batuk berat
- Penumpukan cairan di paru-paru
- Penurunan tekanan darah
- Gangguan ginjal
- Syok hingga gagal napas
CDC menyebutkan bahwa fase berat pada HPS dapat berkembang hanya dalam hitungan hari setelah gejala awal muncul. Karena itu, deteksi dini menjadi faktor penting dalam meningkatkan peluang kesembuhan.
Apakah Hantavirus Menular Antarmanusia?
Mayoritas jenis Hantavirus tidak menular dari manusia ke manusia. Namun, WHO mencatat bahwa Andes virus di Amerika Selatan memiliki kemungkinan penularan terbatas pada kontak erat dan berkepanjangan. Meski demikian, penularan utamanya tetap berasal dari paparan hewan pengerat yang terinfeksi. Risiko penularan luas seperti pandemi pernapasan dinilai jauh lebih rendah dibandingkan virus airborne lainnya.
Cara Diagnosis dan Penanganan Hantavirus
Diagnosis hantavirus dilakukan melalui pemeriksaan laboratorium, termasuk:
- Pemeriksaan antibodi IgM dan IgG
- RT-PCR untuk mendeteksi materi genetik virus
- Pemeriksaan darah dan radiologi paru
Saat ini belum terdapat terapi antivirus spesifik untuk Hantavirus. Penanganan difokuskan pada terapi suportif, seperti:
- Pemantauan ketat di rumah sakit
- Pemberian oksigen
- Perawatan intensif
- Penanganan gangguan jantung dan ginjal
WHO menegaskan bahwa penanganan sejak awal dapat membantu menurunkan risiko komplikasi dan kematian.
Cara Mencegah Hantavirus
Pencegahannya berfokus pada pengendalian paparan tikus dan menjaga kebersihan lingkungan. Langkah pencegahan yang dapat dilakukan antara lain:
- Menutup akses masuk tikus ke rumah
- Menyimpan makanan dalam wadah tertutup
- Membersihkan area lembap secara rutin
- Menggunakan sarung tangan dan masker saat membersihkan area terkontaminasi
- Tidak menyapu kotoran tikus dalam keadaan kering
- Menjaga ventilasi ruangan tetap baik
Selain menjaga kebersihan lingkungan, pemeriksaan kesehatan juga penting dilakukan apabila muncul gejala setelah terpapar area dengan risiko tinggi.
👉🏻Baca Juga: Lindungi Diri dari Ancaman Leptospirosis di Musim Pancaroba
Jangan Tunggu Gejalanya Memburuk, Kenali Risiko Sejak Dini
Hantavirus memang tergolong kasus yang relatif jarang, tetapi dampaknya dapat serius apabila terlambat dikenali. Gejala awal yang menyerupai flu sering membuat kondisi ini terabaikan hingga berkembang menjadi gangguan pernapasan berat atau komplikasi organ lainnya. Meningkatkan kesadaran terhadap Hantavirus menjadi langkah penting saat ini. Pemeriksaan kesehatan secara berkala, menjaga kebersihan lingkungan, serta deteksi dini melalui layanan laboratorium dapat membantu meminimalkan risiko komplikasi yang lebih serius. Untuk memperoleh informasi kesehatan terkini, promo layanan pemeriksaan, serta edukasi medis terpercaya, akses aplikasi Beranda CITO dan WhatsApp Channel CITO secara berkala. Informasi kesehatan yang akurat dan relevan dapat menjadi langkah untuk menjaga kualitas hidup tetap optimal di tengah aktivitas yang semakin dinamis.
Innovation for Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. 2024. About Hantavirus. Atlanta: CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. 2024. Clinical Overview of Hantavirus. Atlanta: CDC.
- Centers for Disease Control and Prevention. 2024. Clinician Brief: Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Atlanta: CDC.
- World Health Organization. 2026. Hantavirus Fact Sheet. Geneva: WHO.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2023. Pedoman Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Virus Hanta di Indonesia. Jakarta: Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI.
Download Beranda CITO Sekarang Juga👇🏻


