Sekilas Mengenai Apa itu Stunting
Stunting merupakan ancaman utama terhadap kualitas manusia Indonesia, juga ancaman terhadap kemampuan daya saing bangsa. Hal ini dikarenakan anak stunted, bukan hanya terganggu pertumbuhan fisiknya (bertubuh pendek/kerdil) saja, melainkan juga terganggu pada perkembangan otaknya, yang tentu akan sangat mempengaruhi kemampuan dan prestasi di sekolah, produktivitas dan kreativitasnya di usia produktif.
Meskipun sudah menjadi problem yang cukup lama, sebagian besar masyarakat masih banyak yang belum memahami istilah stunting. Stunting adalah masalah kurang gizi kronis yang disebabkan oleh kurangnya asupan gizi dalam waktu yang cukup lama, sehingga mengakibatkan gangguan pertumbuhan pada anak yakni tinggi badan anak lebih rendah atau pendek (kerdil) dari standar usianya.
Kondisi tubuh anak yang pendek seringkali dikatakan sebagai faktor keturunan (genetik) dari kedua orang tuanya, sehingga masyarakat banyak yang hanya menerima tanpa berbuat apa-apa untuk mencegahnya. Padahal seperti kita ketahui, genetika merupakan faktor determinan kesehatan yang paling kecil pengaruhnya bila dibandingkan dengan faktor perilaku, lingkungan (sosial, ekonomi, budaya, politik), dan pelayanan kesehatan. Dengan kata lain, stunting merupakan masalah yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.
Baca juga: Down Syndrome, Mengenai Sebab dan Bagaimana Mengetahuinya
Kondisi Terkini Mengenai Stunting
Menurut CIFFChild pada hasil studinya di 2016, terdapat 162 juta anak harus mengidap stunting di bawah usia 5 tahun. Bahkan data menunjukkan sebesar 39% anak berusia 5 tahun ke bawah di Asia Selatan mengidap stunting. Berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2020 tentang standar antropometri penilaian staus gizi anak, stunting merupakan status gizi yang didasrkan pada indeks tinggi badan menurut umur (TB/U) dengan zscore kurang dari -2 SD (standar deviasi). Sedangkan Riskesdas melalui Buletin Kemenkes mencatat, untuk proporsi stunting balita di Indonesia pada tahun 2018 menunjukkan prevalensi sebesar 30,8%.
Berharganya Masa 1000 Hari Pertama Kehidupan Anak
1000 hari pertama yang dimaksud adalah masa kehamilan selama 270 hari hingga anak telah menginjak usia 2 tahun (730 hari). Masa awal kehidupan anak ini harus diberikan gizi dan nutrisi yang memenuhi. Saat kehamilan, ibu harus menjaga kesehatan tubuh dan kandungan dengan baik. Selanjutnya ketika anak telah lahir, kebutuhan gizi dan nutrisi harus terpenuhi. Selain itu faktor lingkungan juga harus diperhatikan supaya anak dapat bertumbuh kembang di lingkungan yang baik.
Kementrian Kesehatan saja mengumpamakan 1000 hari pertama kehidupan sebagai window of opportunities atau dapat diartikan sebagai periode emas untuk bertumbuh. Dengan memanfaatkan 1000 hari pertama kehidupan dengan maksimal, pertumbuhan anak secara fisik dan otak dapat maksimal. Tambah lagi, terhindar dari stunting. Berikut ini adalah beberapa hal yang dapat dilakukan pada 1000 hari pertama kehidupan anak:
- Mengonsumsi makanan dengan gizi dan nutrisi seimbang selama masa kehamilan.
- Tidak merokok, konsumsi alkohol, dan penyalahgunaan obat-obatan.
- Mengontrol stres saat masa kehamilan.
- Membuat lingkungan yang suportif dengan menghindari dan mencegah hal negatif terjadi yang dapat mempengaruhi mental dan pribadi anak. Seperti, pertengkaran dalam rumah tangga.
- Pemberian ASI Eksklusif, termasuk inisiasi menyusui dini (IMD) begitu bayi dilahirkan.
- Memberi makanan bergizi dan bernutrisi seimbang untuk anak dengan gizi yang seimbang sejak makan pertama atau MPASI.
- Menjaga hubungan antara orangtua dan anak, dengan melakukan aktivitas bersama anak yang menyenangkan dan menstimulasi otaknya untuk berlatih berkembang.
Baca juga: 4 Sehat 5 Sempurna, Untuk Dapatkan Gizi yang Sempurna
Bagaimana Mencegah Stunting
Salah satu fokus pemerintah saat ini adalah pencegahan stunting. Upaya ini bertujuan agar anak-anak Indonesia dapat tumbuh dan berkembang secara optimal dan maksimal, dengan disertai kemampuan emosional, sosial, dan fisik yang siap untuk belajar, serta mampu berinovasi dan berkompetisi di tingkat global. Hal hal yang berpengaruh terhadap terjadinya stunting:
1. Pola Makan
Masalah stunting dipengaruhi oleh rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi selama masa kehamilan hingga anak telah lahir. Istilah ”Isi Piringku” dengan gizi seimbang perlu diperkenalkan dan dibiasakan dalam kehidupan sehari-hari. Dalam satu porsi makan, setengah piring diisi oleh sayur dan buah, setengahnya lagi diisi dengan sumber protein (baik nabati maupun hewani) dengan proporsi lebih banyak daripada karbohidrat.
2. Pola Asuh
Stunting juga dapat dipengaruhi oleh aspek perilaku, terutama pada pola asuh yang kurang baik ketika melakukan praktek pemberian makan bagi bayi dan balita. Dimulai dari edukasi tentang kesehatan reproduksi dan gizi bagi remaja sebagai cikal bakal keluarga, hingga para calon ibu memahami pentingnya memenuhi kebutuhan gizi saat hamil dan stimulasi bagi janin, serta memeriksakan kandungan empat kali selama kehamilan.
Bersalin di fasilitas kesehatan, lakukan inisiasi menyusu dini (IMD) dan berupayalah agar bayi mendapat colostrum air susu ibu (ASI). Berikan hanya ASI saja sampai bayi berusia 6 bulan. Setelah itu, ASI boleh dilanjutkan sampai usia 2 tahun, namun berikan juga makanan pendamping ASI. Jangan lupa pantau tumbuh kembangnya dengan membawa buah hati ke Posyandu setiap bulan. Hal lain yang juga perlu diperhatikan adalah berikanlah hak anak mendapatkan kekebalan dari penyakit berbahaya melalui imunisasi yang telah dijamin ketersediaan dan keamanannya oleh Pemerintah. Masyarakat bisa memanfaatkannya dengan tanpa biaya di Posyandu atau Puskesmas terdekat.
3. Sanitasi dan Akses Air Bersih
Rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan, termasuk di dalamnya adalah akses sanitasi dan air bersih, mendekatkan anak pada risiko ancaman penyakit infeksi. Untuk itu, perlu membiasakan cuci tangan pakai sabun dan air mengalir, serta tidak buang air besar sembarangan.
Pola asuh dan status gizi sangat dipengaruhi oleh pemahaman orang tua (seorang ibu) dalam mengatur kesehatan dan gizi di keluarganya. Karena itu, edukasi diperlukan agar dapat mengubah perilaku yang bisa mengarahkan pada peningkatan kesehatan gizi atau ibu dan anaknya.
Stunting Tidak Dapat Sembuh
Meskipun tidak dapat sembuh, pengidap stunting harus diberikan gizi dan nutrisi yang maksimal selama masa anak-anak hingga tahap pertumbuhan selanjutnya. Hal ini perlu dilakukan untuk anak dapat terus bertumbuh dan berkembang walaupun memiliki keterlambatan. Untuk mendapatkan perkembangan yang maksimal, anak juga perlu dilatih secara baik agar otaknya dapat terus berkembang untuk dapat berpikir secara kritis.


