Mengapa Banjir Bisa Memicu Penyakit Menular? Yuk Cari Tau!
warga mengungsi di tempat penampungan pasca banjir

Musim penghujan beberapa tahun terakhir seakan datang dengan wajah baru, lebih deras, lebih lama, dan sering membawa serta rentetan bencana: banjir, longsor, hingga kerusakan infrastruktur. Ketika air bah akhirnya mulai surut, kita sering menghela napas lega. Namun sayangnya, ancaman belum benar-benar berakhir. Ada bahaya yang justru bergerak diam-diam di balik lumpur dan genangan: penyakit menular.

Fenomena ini bukan sekadar kekhawatiran. Baik WHO maupun Kementerian Kesehatan Indonesia secara tegas menyebut bahwa daerah pasca banjir merupakan area berisiko tinggi untuk wabah penyakit akibat kombinasi faktor lingkungan, sanitasi, air terkontaminasi, dan kondisi pengungsian yang padat.

Artikel ini merangkum penjelasan ilmiah, analisis lapangan, serta data terbaru untuk memahami mengapa banjir dapat memicu penyakit menular.

1. Air Banjir Bukan Air Bersih – Tempat Berkumpulnya Patogen Penyakit Menular

Air banjir yang keruh bukan hanya campuran tanah. Dalam laporan WHO (2022), air banjir biasanya mengandung:

  • kotoran manusia (feses),

  • kotoran hewan,

  • sampah organik dan anorganik,

  • bangkai hewan,

  • limbah industri,

  • limbah pertanian.

Lingkungan yang kaya kontaminan dan nutrisi inilah yang menjadi rumah ideal bagi bakteri E. coli, Vibrio cholerae, virus hepatitis A, parasit, hingga jamur. Air banjir kemudian meresap ke sumur, mencemari bahan makanan, peralatan dapur, bahkan permukaan rumah.

Tak heran, WHO mencatat peningkatan signifikan kasus diare, leptospirosis, hepatitis A, dan penyakit kulit setelah peristiwa banjir besar di berbagai negara (WHO, 2021–2023).

2. Krisis Air Minum Bersih – Ketika Sumber Air Ikut Tercemar

Banjir sering merusak sumur, depo air, hingga jaringan pipa. Akibatnya, masyarakat kehilangan akses air bersih. Kemenkes (2023) menekankan bahwa air minum tercemar adalah faktor paling besar dalam penularan penyakit bawaan air di lokasi bencana.

Masalahnya, tidak semua orang tahu cara sederhana menjernihkan atau mensterilkan air. Padahal, tanpa proses disinfeksi, mikroorganisme di dalam air dapat menyebabkan penyakit dalam hitungan jam.

3. Danger Zone pada Makanan: 4–60°C

Kuman berkembang biak paling cepat pada rentang suhu 4–60°C, yang disebut zona bahaya oleh WHO (2021). Saat banjir, kulkas rusak, kompor tidak berfungsi, dan makanan mudah terpapar udara lembap.

Jika makanan dibiarkan lebih dari 2 jam di suhu lingkungan pasca banjir, risiko kontaminasi meningkat drastis. Inilah alasan mengapa keracunan makanan meningkat di pengungsian.

4. Pengungsian Padat – Ruang Ideal Penyakit Menular

Ketika warga harus mengungsi, mereka terpaksa tinggal berdekatan dalam ruangan terbatas. WHO (2022) menyebut bahwa kondisi seperti ini meningkatkan penularan penyakit melalui:

  • Droplet dan udara (ISPA, influenza, TB),

  • Kontak langsung kulit-ke-kulit (infeksi jamur dan bakteri),

  • Makanan dan minuman bersama,

  • Sanitasi buruk.

Kasus demam, batuk, infeksi kulit, hingga penyakit pencernaan sangat umum ditemui pada minggu pertama di fasilitas pengungsian.

5. Genangan Air = Magnet Bagi Nyamuk, Tikus, Lalat, dan Kecoa

Genangan air adalah tempat sempurna untuk nyamuk Aedes dan Culex berkembang biak. Banjir juga memaksa tikus keluar ke permukaan dan masuk ke rumah warga.

Kedua hewan ini membawa penyakit serius:

  • Demam berdarah (DBD), chikungunya, malaria: dari nyamuk.

  • Leptospirosis: dari tikus.

Kemenkes melaporkan lonjakan leptospirosis hingga 40% pasca banjir besar di beberapa kota pada 2022–2024.

6. Kekebalan Tubuh Menurun – Stres, Kurang Tidur, dan Asupan Gizi Rendah

Kondisi psikologis dan fisik penyintas banjir sering menurun:

  • lelah,

  • kurang tidur,

  • stres dan cemas,

  • asupan gizi minim.

WHO (2023) menjelaskan bahwa stres akut dapat menurunkan imunitas secara signifikan sehingga tubuh lebih mudah terserang penyakit.

Kombinasi faktor-faktor inilah yang membuat penyakit menular mudah menyebar di wilayah terdampak banjir.

Solusi Cepat: Teknologi Penjernihan & Sterilisasi Air Cegah Penyakit Menular

penyakit pasca banjir, penyebab penyakit setelah banjir, risiko kesehatan banjir

Salah satu solusi yang paling mudah dan murah adalah tablet disinfeksi/klorinasi. Tablet ini efektif membunuh bakteri dan virus, sesuai rekomendasi WHO untuk situasi bencana.

Kelebihannya:

  • sangat murah,

  • mudah digunakan,

  • tidak memerlukan peralatan rumit,

  • aman untuk konsumsi setelah proses pelarutan.

Produsen tablet klorinasi bahkan dianjurkan WHO untuk memperluas distribusi ke area bencana sebagai bagian dari mitigasi kesehatan masyarakat.

CITO dan Peran Pemeriksaan Kesehatan Pasca Banjir

Lingkungan pasca banjir menyimpan banyak risiko. Karena itu, deteksi dini sangat penting, terutama untuk:

  • leptospirosis,

  • hepatitis A,

  • DBD,

  • infeksi saluran napas,

  • infeksi kulit.

CITO menyediakan layanan pemeriksaan kesehatan lengkap untuk memastikan kondisi tubuh tetap aman.

👉 Lakukan Medical Check-Up (MCU) atau pemeriksaan khusus pasca banjir di CITO terdekat. Cepat, akurat, dan terpercaya.

Referensi
  • WHO. 2021. Food Safety in Emergencies. World Health Organization.

  • WHO. 2022. Flooding and Communicable Diseases: Risks and Prevention.

  • WHO. 2023. Health Risks in Post-Flood Environments.

  • Kementerian Kesehatan RI. 2022. Pedoman Penanggulangan Krisis Kesehatan.

  • Kemenkes RI. 2023. Laporan Situasi Penyakit Menular Pasca Bencana.