Mitos atau Fakta Kebutuhan Gizi Lansia Bisa Diabaikan?
kebutuhan gizi lansia untuk menjaga kualitas hidup

Peningkatan usia harapan hidup membuat perhatian terhadap kesehatan lansia menjadi semakin penting. Namun, masih banyak anggapan yang keliru bahwa kebutuhan gizi lansia tidak lagi menjadi prioritas karena aktivitas fisik yang menurun. Pandangan ini berisiko menimbulkan dampak kesehatan jangka panjang. Faktanya, pemenuhan kebutuhan gizi lansia justru berperan besar dalam menjaga kualitas hidup, kemandirian, dan daya tahan tubuh di usia lanjut.

Perubahan Fisiologis Lansia dan Dampaknya terhadap Kebutuhan Gizi

Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan alami. Massa otot berkurang, kepadatan tulang menurun, serta fungsi pencernaan dan penyerapan zat gizi tidak lagi seoptimal usia muda. Kondisi ini menyebabkan lansia membutuhkan perhatian khusus dalam pemenuhan asupan nutrisi harian. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa kebutuhan gizi lansia tidak boleh disamakan dengan usia produktif. Meskipun kebutuhan energi menurun, kebutuhan protein, vitamin, dan mineral tetap harus dipenuhi agar fungsi tubuh dapat berjalan dengan baik.

Kebutuhan Gizi Lansia

Centers for Disease Control and Prevention (CDC) menegaskan bahwa pemenuhan kebutuhan gizi lansia berperan penting dalam menjaga kesehatan jantung, fungsi otak, kekuatan otot, serta sistem kekebalan tubuh. Asupan protein membantu mencegah penurunan massa otot, sementara serat berperan dalam menjaga kesehatan pencernaan dan mengontrol kadar gula darah. Selain itu, lemak sehat seperti omega-3 diketahui mendukung kesehatan jantung dan fungsi kognitif.

👉🏻Baca Juga: Tips Makanan Sehat Untuk Lansia

Dampak Jika Kebutuhan Gizi Lansia Diabaikan

1. Peningkatan Risiko Penyakit Kronis

Pengabaian kebutuhan gizi lansia dapat meningkatkan risiko penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Kekurangan asupan nutrisi penting menyebabkan fungsi metabolisme tubuh tidak berjalan optimal. Kondisi ini membuat pengendalian kadar gula darah, kolesterol, dan tekanan darah menjadi lebih sulit. Dalam jangka panjang, penyakit kronis yang tidak terkontrol dapat menurunkan kualitas hidup lansia. World Health Organization mencatat bahwa status gizi yang buruk berhubungan erat dengan peningkatan angka kesakitan pada usia lanjut. 

2. Penurunan Massa Otot dan Kekuatan Fisik

Asupan protein yang tidak mencukupi dapat mempercepat penurunan massa otot atau sarcopenia pada lansia. Kondisi ini menyebabkan tubuh menjadi lebih lemah dan mudah lelah saat melakukan aktivitas sehari-hari. Penurunan kekuatan otot juga berdampak pada berkurangnya keseimbangan tubuh. Akibatnya, risiko jatuh dan cedera meningkat secara signifikan. Centers for Disease Control and Prevention menegaskan bahwa kecukupan protein berperan besar dalam mempertahankan kemandirian lansia. Pemenuhan kebutuhan gizi lansia membantu menjaga kekuatan fisik dan kemampuan bergerak.

3. Menurunnya Daya Tahan Tubuh

Kekurangan vitamin dan mineral tertentu, seperti vitamin C, vitamin D, dan zinc, dapat melemahkan sistem kekebalan tubuh. Lansia dengan daya tahan tubuh rendah lebih rentan mengalami infeksi, baik ringan maupun berat. Proses penyembuhan penyakit pun cenderung berlangsung lebih lama. Kondisi ini dapat meningkatkan frekuensi kunjungan ke fasilitas kesehatan dan risiko rawat inap. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa status gizi berperan penting dalam menjaga imunitas lansia. 

4. Gangguan Fungsi Kognitif dan Kesehatan Mental

Asupan gizi yang tidak seimbang dapat memengaruhi fungsi otak dan kesehatan mental lansia. Kekurangan vitamin B12, asam folat, dan asam lemak omega-3 diketahui berhubungan dengan penurunan daya ingat. Lansia juga berisiko mengalami gangguan konsentrasi dan perubahan suasana hati. Dalam beberapa kasus, kondisi ini dapat mempercepat penurunan fungsi kognitif. Nutrisi berperan penting dalam menjaga kesehatan otak di usia lanjut. Pemenuhan kebutuhan gizi lansia membantu mendukung fungsi mental yang lebih stabil.

5. Penurunan Kualitas Hidup

Lansia dengan status gizi buruk memiliki risiko lebih tinggi untuk mengalami komplikasi kesehatan. Kondisi ini sering berujung pada kebutuhan perawatan medis yang lebih intensif. Proses pemulihan setelah sakit pun cenderung lebih lama dibandingkan lansia dengan status gizi baik. Akibatnya, kualitas hidup dapat menurun secara signifikan. Malnutrisi pada lansia berkaitan dengan meningkatnya angka rawat inap. Pemantauan dan pemenuhan kebutuhan gizi  menjadi langkah penting untuk menjaga kualitas hidup jangka panjang.

Pentingnya Pemeriksaan Kesehatan untuk Mendukung Gizi Lansia

Pemeriksaan kesehatan secara berkala membantu mengetahui kondisi tubuh secara objektif. Pemeriksaan laboratorium, seperti pemeriksaan darah, kadar vitamin, mineral, serta fungsi organ, dapat memberikan gambaran yang akurat mengenai kebutuhan gizi lansia. Hasil pemeriksaan ini dapat menjadi dasar dalam menentukan pola makan dan langkah pencegahan yang tepat.

👉🏻Baca Juga: Persiapan Kesehatan Sebelum Puasa, Biar Ibadah Lancar Badan Tetap Kuat

 

Innovation For Happiness

 

Selamat Tahun Baru 2026

Download Aplikasi Beranda CITO Sekarang Juga👇🏼