Saat Cuaca Berubah-ubah, Tubuh Ikut Terganggu
Akhir-akhir ini, Cuaca berubah-ubah. Pagi panas terik, siang mendung, sore hujan, lalu malam terasa dingin menusuk tulang. Di tengah perubahan yang cepat ini, banyak orang mengeluh badan terasa tidak enak. Mulai dari pegal, meriang, pusing ringan, hingga tenggorokan terasa tidak nyaman.
Secara medis, kondisi ini bukan sekadar sugesti. Cuaca berubah-ubah memang dapat memengaruhi keseimbangan tubuh, terutama sistem imun dan sistem pernapasan.
Mengapa Cuaca Berubah-ubah Membuat Badan Tidak Enak?
Tubuh manusia memiliki mekanisme adaptasi terhadap lingkungan. Namun, ketika perubahan suhu dan kelembapan terjadi terlalu cepat, tubuh membutuhkan waktu untuk menyesuaikan diri.
World Health Organization (WHO) menjelaskan bahwa perubahan lingkungan, termasuk suhu dan kelembapan udara, dapat memengaruhi respons imun tubuh dan meningkatkan risiko infeksi saluran pernapasan (WHO, 2023).
Beberapa mekanisme yang sering terjadi antara lain:
1. Daya Tahan Tubuh Menurun Sementara
Perubahan cuaca membuat tubuh bekerja ekstra untuk menjaga suhu inti tetap stabil. Energi yang seharusnya digunakan untuk melawan kuman akhirnya terbagi, sehingga imunitas menurun sementara.
2. Virus dan Bakteri Lebih Mudah Berkembang
Kondisi lembap saat hujan menjadi lingkungan ideal bagi virus dan bakteri. Inilah sebabnya flu, batuk, dan infeksi saluran napas lebih sering muncul saat cuaca tidak menentu.
3. Gangguan pada Sistem Pernapasan
Udara dingin dan lembap dapat mengiritasi saluran napas, terutama pada orang dengan asma, alergi, atau riwayat infeksi saluran pernapasan.
Gejala yang Sering Dirasakan Saat Cuaca Berubah-ubah
Ketika cuaca berubah-ubah, tubuh biasanya memberi sinyal melalui beberapa keluhan berikut:
-
Badan pegal dan terasa berat
-
Meriang atau rasa ingin demam
-
Pusing ringan atau kepala terasa penuh
-
Hidung tersumbat atau pilek
-
Mudah lelah meski aktivitas ringan
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menyebutkan bahwa kondisi ini sering berkaitan dengan penurunan daya tahan tubuh akibat faktor lingkungan dan pola hidup yang kurang seimbang (Kemenkes RI, 2023).
Kapan Harus Waspada?
Badan terasa tidak enak akibat cuaca umumnya akan membaik dalam beberapa hari. Namun, Anda perlu lebih waspada jika:
-
Keluhan tidak membaik lebih dari 3 hari
-
Demam tinggi mulai muncul
-
Batuk dan pilek semakin berat
-
Tubuh terasa sangat lemah
Kondisi tersebut bisa menjadi tanda awal infeksi yang membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Peran Pemeriksaan Laboratorium
Saat cuaca berubah-ubah, pemeriksaan laboratorium membantu memastikan kondisi tubuh secara objektif. Pemeriksaan ini dapat menilai:
-
Tanda infeksi atau peradangan
-
Kondisi daya tahan tubuh
-
Parameter metabolik yang berpengaruh pada stamina
Deteksi dini membantu dokter menentukan apakah keluhan disebabkan adaptasi cuaca atau sudah mengarah ke infeksi.
Baca Juga: Super Flu di Indonesia, Kenali H3N2 dan Deteksi Dini di Laboratorium
Cara Menjaga Tubuh Tetap Fit Saat Cuaca Tidak Menentu
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan antara lain:
-
Istirahat cukup dan tidur berkualitas
-
Konsumsi makanan bergizi seimbang
-
Perbanyak minum air putih
-
Gunakan pakaian yang sesuai dengan kondisi cuaca
-
Cuci tangan secara rutin
WHO dan Kemenkes RI menekankan pentingnya menjaga kebugaran dan imunitas tubuh sebagai perlindungan utama terhadap penyakit akibat perubahan lingkungan (WHO, 2024; Kemenkes RI, 2023).
Jangan Abaikan Sinyal dari Tubuh
Cuaca berubah-ubah dan badan terasa tidak enak adalah kombinasi yang sering terjadi. Meski terlihat ringan, kondisi ini tidak boleh diabaikan jika berlangsung lama atau semakin berat.
Bila tubuh sering terasa tidak fit saat cuaca tidak menentu, pemeriksaan kesehatan di laboratorium dapat membantu mengetahui kondisi tubuh lebih dini.
👉 Periksa kesehatan Anda di Lab Medis CITO untuk memastikan tubuh tetap fit menghadapi perubahan cuaca dan aktivitas harian.
Innovation For Happiness
Referensi
- World Health Organization. (2023). Climate Change and Health. WHO.
- World Health Organization. (2024). Respiratory Diseases and Environmental Factors. WHO.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pola Hidup Bersih dan Sehat. Kemenkes RI.

