Sakit Dada Tiba-tiba pada Remaja: Waspada, Tapi Jangan Panik
remaja merasakan nyeri dada mendadak

Sakit dada sering dianggap sebagai gejala penyakit orang dewasa, terutama yang berkaitan dengan jantung. Tapi nyatanya, remaja pun bisa mengalami nyeri dada secara tiba-tiba. Kadang terasa seperti ditusuk, tertindih, atau sesak yang datang mendadak—dan tentu bikin panik. Namun, nggak semua sakit dada berarti penyakit jantung serius. Yuk, kita bahas lebih dalam agar tahu kapan harus waspada dan kapan cukup istirahat.

📌 Mengapa Remaja Bisa Mengalami Sakit Dada?

Menurut Kementerian Kesehatan RI (2023), nyeri dada pada usia muda umumnya bukan disebabkan oleh penyakit jantung, tapi oleh faktor lain seperti stres, gangguan otot, atau masalah pencernaan. Namun, tetap perlu diwaspadai bila terjadi berulang atau disertai gejala lain seperti sesak napas atau pingsan.

Berikut penyebab yang paling sering terjadi:

  • Stres dan Kecemasan Berlebih
    Tekanan akademik, hubungan sosial, atau masalah keluarga bisa memicu stres yang membuat otot dada menegang dan terasa nyeri. WHO (2022) menyebutkan bahwa gangguan psikosomatik akibat stres meningkat 30% di kalangan remaja global.

  • Nyeri Otot atau Cedera Dada
    Aktivitas fisik berlebihan, seperti olahraga berat tanpa pemanasan, dapat menyebabkan otot dada tegang. Rasa sakitnya biasanya tajam dan memburuk saat bergerak.

  • Masalah Pernapasan (Asma atau Infeksi Paru)
    Asma, bronkitis, atau infeksi saluran napas bisa memicu sesak dan nyeri di dada bagian atas. Kemenkes (2021) mencatat, prevalensi asma pada remaja Indonesia mencapai 5,2%.

  • Refluks Asam Lambung (GERD)
    Naiknya asam lambung dapat menyebabkan sensasi terbakar di dada (heartburn). Remaja dengan pola makan tidak teratur atau sering begadang lebih rentan mengalaminya.

  • Kelainan Jantung Langka pada Usia Muda
    Walau jarang, WHO (2023) melaporkan peningkatan kasus kelainan jantung bawaan dan aritmia pada remaja. Biasanya disertai pingsan saat aktivitas fisik atau denyut jantung tak beraturan.

⚠️ Kapan Harus Segera ke Dokter?

Segera periksa ke dokter atau IGD bila nyeri dada disertai gejala berikut:

  • Sesak napas hebat

  • Pingsan atau hampir pingsan

  • Nyeri menjalar ke lengan kiri, leher, atau rahang

  • Keringat dingin dan jantung berdebar cepat

Kondisi ini bisa menjadi tanda gangguan jantung serius seperti aritmia atau peradangan otot jantung (myocarditis), terutama setelah infeksi virus.

💡 Cara Mencegah dan Mengelola Sakit Dada Tiba-Tiba Pada Remaja

  • Kelola stres dengan bijak. Coba teknik relaksasi seperti pernapasan dalam, journaling, atau olahraga ringan seperti yoga.

  • Perhatikan pola makan. Hindari makanan pedas, asam, dan minuman berkarbonasi yang bisa memicu asam lambung.

  • Tidur cukup dan olahraga teratur. WHO (2021) menyarankan remaja tidur 8–10 jam per malam dan aktif minimal 60 menit per hari.

  • Lakukan pemeriksaan kesehatan berkala. Pemeriksaan seperti EKG atau MCU (Medical Check Up) di laboratorium tepercaya seperti Lab CITO bisa membantu mendeteksi masalah lebih awal.

Baca Juga: Perilaku Hidup SehatI: nvestasi Jangka Panjang untuk Kesehatan

🌿 Sakit Dada Tiba-TIba Pada Remaja

Sakit dada pada remaja bukan hal sepele, tapi juga nggak selalu tanda bahaya. Dengan mengenali penyebab dan gejalanya, kita bisa bertindak cepat tanpa kepanikan berlebihan. Bila nyeri terus berulang atau disertai gejala berat, segera periksakan diri ke dokter agar mendapat penanganan tepat.

Karena kesehatan jantung bahkan di usia muda adalah investasi untuk masa depan. 💚

Innovation For Happiness

Referensi
  • World Health Organization. (2023). Adolescent Health and Cardiovascular Risks. Geneva: WHO Press.

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Profil Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kemenkes RI.

  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2021). Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas). Jakarta: Badan Litbangkes.

  • World Health Organization. (2022). Global Report on Mental Health: Transforming Mental Health for All. Geneva: WHO.

  • World Health Organization. (2021). Physical Activity and Sleep Recommendations for Youth. Geneva: WHO.