Kehamilan merupakan fase fisiologis yang membawa berbagai perubahan pada tubuh, baik secara hormonal, anaotomis, maupun sistem imun. Di balik proses alami tersebut, terdapat beberapa kondisi kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius, salah satunya adalah infeksi saluran kemih (ISK). Ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih akibat kombinasi perubahan biologis dan faktor risiko tertentu yang sering tidak disadari. Kondisi ini bukan sekadar keluhan ringan. Apabila tidak ditangani dengan tepat, infeksi dapat memengaruhi kesehatan ibu dan perkembangan janin.
Mengapa Ibu Hamil Rentan Terkena Infeksi Saluran Kemih?
Secara medis, terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih. Perubahan tersebut terjadi sebagai respons alami tubuh untuk mendukung pertumbuhan janin, namun secara tidak langsung meningkatkan risiko infeksi. Berikut adalah alasan mengapa ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih:
1. Perubahan Hormon Progesterone
Selama kehamilan, kadar hormon progesteron meningkat signifikan. Hormon ini berfungsi untuk merelaksasi otot polos, termasuk pada saluran kemih. Akibatnya, aliran urine menjadi lebih lambat dan dapat menyebabkan stasis urine. Kondisi ini menciptakan lingkungan yang lebih mudah bagi bakteri berkembang. Menurut Centers for Disease Control and Prevention Tahun 2023, perlambatan aliran urine merupakan salah satu faktor utama peningkatan risiko ISK pada kehamilan.
2. Tekanan Rahim yang Besar
Pertumbuhan rahim memberikan tekanan pada kandung kemih dan ureter. Tekanan tersebut dapat menghambat pengosongan kandung kemih secara optimal sehingga sisa urine berpotensi menjadi media pertumbuhan bakteri. World Health Organization Tahun 2022 menjelaskan bahwa perubahan anatomi selama kehamilan berkontribusi terhadap peningkatan risiko infeksi saluran kemih pada ibu hamil.
3. Perubahan pada Sistem Imun
Kehamilan memicu adaptasi sistem imun untuk mencegah penolakan terhadap janin. Namun, kondisi ini juga membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi tertentu, termasuk ISK. American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG, 2023) menyebutkan bahwa perubahan imunologis selama kehamilan meningkatkan kerentanan terhadap infeksi bakteri.
Faktor Infeksi Saluran Kemih
Selain perubahan fisiologis, terdapat faktor tambahan yang memperkuat alasan mengapa ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih. Banyak kasus terjadi bukan hanya karena perubahan biologis, tetapi juga dipengaruhi oleh kebiasaan sehari-hari dan kondisi kesehatan tertentu. Misalnya, asupan cairan yang kurang dapat membuat urine menjadi lebih pekat sehingga bakteri lebih mudah berkembang. Kebiasaan menahan buang air kecil juga memperpanjang waktu bakteri berada di saluran kemih. Selain itu, riwayat infeksi sebelumnya, diabetes gestasional, hingga perubahan flora bakteri akibat hormon turut meningkatkan risiko. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI, 2021) menunjukkan bahwa deteksi dini melalui pemeriksaan antenatal mampu mengidentifikasi infeksi tanpa gejala yang sering luput dari perhatian.
Faktor risiko yang perlu diperhatikan meliputi:
- Kurangnya konsumsi cairan harian sehingga aliran urine tidak optimal
- Kebiasaan menahan buang air kecil dalam waktu lama
- Riwayat infeksi saluran kemih sebelumnya
- Diabetes gestasional atau kondisi metabolik tertentu
- Perubahan keseimbangan bakteri alami akibat hormon kehamilan
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Banyak ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih tanpa keluhan spesifik, sehingga sering terdeteksi secara tidak sengaja melalui pemeriksaan laboratorium. Namun, ketika gejala muncul, biasanya berkaitan dengan iritasi pada saluran kemih atau respons inflamasi tubuh. Gejala ringan sering dianggap sebagai perubahan normal selama kehamilan, padahal bisa menjadi tanda awal infeksi yang memerlukan evaluasi medis.
Beberapa gejala yang umum ditemukan antara lain:
- Sensasi terbakar atau nyeri saat buang air kecil
- Frekuensi buang air kecil meningkat dengan rasa tidak tuntas
- Nyeri pada perut bawah atau area panggul
- Urine keruh, berbau tajam, atau disertai darah
- Demam atau nyeri pinggang pada kondisi yang lebih berat
Dampak Infeksi Saluran Kemih
ISK selama kehamilan bukan sekadar gangguan ringan, terutama apabila berkembang tanpa penanganan yang tepat. Infeksi yang awalnya terbatas pada kandung kemih dapat menyebar ke ginjal dan memicu komplikasi serius. WHO (2022) melaporkan bahwa infeksi yang tidak ditangani dapat meningkatkan risiko persalinan prematur dan berat badan lahir rendah. Selain itu, kondisi inflamasi yang berlangsung lama dapat memengaruhi kesehatan ibu secara keseluruhan.
Dampak yang perlu diwaspadai meliputi:
- Pielonefritis atau infeksi ginjal
- Risiko kelahiran prematur
- Berat badan lahir rendah pada bayi
- Peningkatan risiko rawat inap pada ibu
- Komplikasi sistemik apabila infeksi menyebar
Cara Mencegah ISK pada Kehamilan
Upaya pencegahan menjadi strategi penting mengingat ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih secara fisiologis. Pendekatan preventif tidak hanya berfokus pada kebersihan, tetapi juga pada kebiasaan harian yang mendukung kesehatan sistem urinaria secara menyeluruh.
1. Menjaga Hidrasi yang Optimal
Asupan cairan yang cukup membantu meningkatkan frekuensi buang air kecil sehingga bakteri lebih cepat dikeluarkan dari saluran kemih. Urine yang tidak terlalu pekat juga menciptakan lingkungan yang kurang ideal bagi pertumbuhan bakteri. WHO (2022) menekankan pentingnya hidrasi sebagai bagian dari pencegahan infeksi pada ibu hamil.
2. Tidak Menahan Buang Air Kecil
Kebiasaan menunda buang air kecil dapat menyebabkan penumpukan bakteri di kandung kemih. Mengosongkan kandung kemih secara teratur membantu mengurangi risiko kolonisasi bakteri yang berlebihan.
3. Menjaga Kebersihan Area Genital
Membersihkan area genital dari depan ke belakang membantu mencegah perpindahan bakteri dari area anus ke saluran kemih. Praktik kebersihan yang sederhana ini memiliki dampak besar dalam mengurangi risiko infeksi.
4. Menggunakan Pakaian Dalam yang Menyerap Keringat
Lingkungan yang lembap dapat meningkatkan pertumbuhan mikroorganisme. Pemilihan bahan pakaian dalam yang breathable membantu menjaga area genital tetap kering dan sehat.
5. Melakukan Pemeriksaan Urine Secara Rutin
Salah satu langkah preventif yang sering dianggap sepele adalah skrining laboratorium. Pemeriksaan urine rutin mampu mendeteksi bakteriuria tanpa gejala yang sering terjadi pada ibu hamil. CDC (2023) mengatakan bahwa pemeriksaan berkala sebagai bagian dari perawatan antenatal untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
Lebih Tenang Menjalani Kehamilan dengn Deteksi Dini yang Tepat
Kehamilan membawa perubahan alami yang membuat ibu hamil rentan terkena infeksi saluran kemih, mulai dari perubahan hormon hingga tekanan anatomis pada saluran kemih. Risiko ini sering muncul tanpa gejala yang jelas, sehingga pemeriksaan rutin menjadi langkah strategis untuk menjaga kesehatan ibu dan janin. Edukasi yang tepat, kebiasaan hidup sehat, serta pemeriksaan laboratorium berkala dapat membantu menjaga kehamilan tetap nyaman dan aman. Periksakan kehamilan anda di laboratorium medis CITO Informasi kesehatan terbaru, layanan pemeriksaan, serta update promo dapat diakses melalui laboratorium medis terpercaya. Akses aplikasi Beranda CITO untuk mendapatkan pelayanan pemeriksaan yang lebih efisien dan promo pemeriksaan lainnya. Follow WhatsApp Channel CITO untuk mendapatkan informasi kesehatan terbaru.
Innovation For Happiness
REFERENSI
- World Health Organization. 2022. Maternal Health and Infection Prevention Guidelines for Pregnancy Care.
- Centers for Disease Control and Prevention (CDC). 2023. Urinary Tract Infection and Pregnancy Clinical Information.
- American College of Obstetricians and Gynecologists (ACOG). 2023. Urinary Tract Infections in Pregnancy Clinical Practice Bulletin.
- National Institute for Health and Care Excellence (NICE). 2022. Urinary Tract Infection (Lower): Antimicrobial Prescribing Guideline.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2021. Pedoman Pelayanan Antenatal Terpadu untuk Kesehatan Ibu Hamil.
