Kurang Tidur Bukan Sekadar Lelah
Di tengah ritme hidup yang serba cepat, waktu tidur sering kali dikorbankan. Lembur kerja, tugas sekolah, hingga kebiasaan menatap layar sebelum tidur perlahan menggerus jam istirahat. Padahal, kurang waktu tidur bisa buat sakit, bukan sekadar membuat badan lemas keesokan harinya.
Secara medis, tidur adalah fase penting bagi tubuh untuk memperbaiki sel, menyeimbangkan hormon, dan memperkuat sistem imun. Ketika waktu tidur terus berkurang, tubuh seperti dipaksa bekerja tanpa jeda. Lama-lama, ia akan memberi sinyal lewat berbagai gangguan kesehatan.
Berapa Jam Tidur yang Ideal?
World Health Organization (WHO) dan berbagai lembaga kesehatan menyebutkan bahwa orang dewasa idealnya membutuhkan 7–9 jam tidur per malam. Remaja bahkan memerlukan waktu tidur yang lebih panjang.
Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi secara konsisten, risiko gangguan kesehatan akan meningkat. Bukan hanya dalam hitungan hari, tetapi juga berdampak jangka panjang.
Dampak Kurang Tidur bagi Kesehatan Tubuh
Kurang tidur memengaruhi hampir seluruh sistem tubuh. Beberapa dampak medis yang paling sering ditemukan antara lain:
1. Daya Tahan Tubuh Menurun
Saat tidur, tubuh memproduksi sitokin, yaitu protein yang berperan melawan infeksi. Kurang tidur membuat produksi zat ini menurun, sehingga tubuh lebih mudah terserang flu, infeksi saluran pernapasan, dan penyakit menular lainnya.
WHO mencatat bahwa gangguan tidur berhubungan erat dengan meningkatnya kerentanan terhadap penyakit infeksi (WHO, 2022).
2. Risiko Penyakit Jantung dan Tekanan Darah Tinggi
Tidur yang tidak cukup dapat mengganggu regulasi tekanan darah dan denyut jantung. Dalam jangka panjang, kondisi ini meningkatkan risiko hipertensi, penyakit jantung koroner, hingga stroke.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga menegaskan bahwa pola tidur yang buruk merupakan salah satu faktor risiko penyakit tidak menular (Kemenkes RI, 2023).
3. Gangguan Gula Darah dan Berat Badan
Kurang tidur memengaruhi hormon insulin dan hormon lapar. Akibatnya, kadar gula darah menjadi tidak stabil dan nafsu makan meningkat. Inilah sebabnya orang yang kurang tidur lebih rentan mengalami diabetes tipe 2 dan obesitas.
4. Konsentrasi Menurun dan Emosi Tidak Stabil
Tidur yang cukup membantu otak memproses informasi dan emosi. Jika jam tidur terus kurang, seseorang akan lebih mudah marah, sulit fokus, dan berisiko mengalami gangguan kecemasan atau depresi.
Baca Juga: Super Flu di Indonesia, Kenali H3N2 dan Deteksi Dini di Laboratorium
Tanda Tubuh Mulai Terdampak Kurang Tidur
Beberapa tanda yang sering diabaikan namun patut diwaspadai antara lain:
-
Mudah lelah meski tidak banyak aktivitas
-
Sering sakit atau flu berulang
-
Sakit kepala di pagi hari
-
Sulit berkonsentrasi dan cepat lupa
-
Mood mudah berubah
Jika kondisi ini terjadi terus-menerus, pemeriksaan kesehatan menjadi langkah yang bijak.
Peran Pemeriksaan Laboratorium
Kurang tidur yang berlangsung lama dapat memicu gangguan metabolik dan imunologis. Melalui pemeriksaan laboratorium, dokter dapat menilai kondisi tubuh secara objektif, seperti:
-
Profil gula darah
-
Profil lipid (kolesterol)
-
Penanda peradangan
-
Fungsi organ tertentu
Pemeriksaan dini membantu mencegah masalah berkembang menjadi penyakit yang lebih serius.
Cara Memperbaiki Pola Tidur
Beberapa langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kualitas tidur antara lain:
-
Tidur dan bangun di jam yang sama setiap hari
-
Mengurangi penggunaan gawai sebelum tidur
-
Menciptakan suasana kamar yang tenang dan gelap
-
Menghindari kafein di malam hari
Jika gangguan tidur tetap berlangsung, konsultasi medis sangat disarankan.
Jangan Anggap Remeh Kurang Tidur
Kurang waktu tidur bisa buat sakit, dan efeknya sering datang perlahan tanpa disadari. Menjaga pola tidur bukan sekadar soal kenyamanan, tetapi investasi jangka panjang bagi kesehatan.
Bila Anda sering merasa lelah, mudah sakit, atau memiliki pola tidur yang tidak teratur, pemeriksaan kesehatan di laboratorium dapat membantu mengetahui kondisi tubuh lebih dini.
👉 Periksa kesehatan Anda di Lab Medis CITO untuk mendapatkan gambaran kondisi tubuh yang akurat dan rekomendasi medis yang tepat.
Innovation For Happiness
Referensi
- World Health Organization. (2022). Sleep and Health. WHO. https://www.who.int
- World Health Organization. (2023). Noncommunicable Diseases and Lifestyle Factors. WHO. https://www.who.int
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Pola Hidup Sehat dan Pencegahan Penyakit Tidak Menular. Kemenkes RI. https://www.kemkes.go.id

