Matcha Ube Latte sedang menjadi salah satu kombinasi minuman yang menarik perhatian karena memadukan rasa khas matcha dengan ube yang memiliki warna ungu mencolok. Perpaduan tersebut membuat minuman ini tidak hanya menarik secara visual, tetapi juga populer sebagai bagian dari tren kuliner di media sosial.
Namun, di balik tampilannya yang cantik, ada satu hal yang sering luput diperhatikan: kandungan gula. Matcha Ube Latte bukan otomatis menjadi minuman sehat hanya karena mengandung matcha. Komposisi susu, sirup ube, pemanis, whipped cream, hingga topping dapat membuat kandungan gula dan kalorinya meningkat. Bagi generasi yang aktif, produktif, dan akrab dengan tren minuman kekinian, memahami isi gelas menjadi langkah sederhana untuk tetap menikmati tren tanpa mengabaikan kesehatan.
Apa Itu Matcha Ube Latte?
Matcha Ube Latte merupakan minuman berbasis matcha yang dipadukan dengan ube, yaitu ubi ungu yang dikenal memiliki warna alami ungu dan cita rasa khas. Umumnya, minuman ini dibuat menggunakan bubuk matcha, susu, ube atau sirup berperisa ube, serta tambahan pemanis. Matcha sendiri berasal dari daun teh yang diproses menjadi bubuk halus. Sementara itu, ube merupakan bahan pangan dari kelompok umbi-umbian. Perlu dipahami bahwa penggunaan kedua bahan tersebut tidak otomatis membuat minuman menjadi rendah gula. Komposisi akhir sangat bergantung pada resep dan produk yang digunakan. Matcha Ube Latte yang dibuat dengan tambahan sirup, gula, krimer, whipped cream, atau topping dapat memiliki kandungan gula yang jauh berbeda dibandingkan versi dengan sedikit atau tanpa tambahan pemanis. Karena itu, istilah matcha dalam nama minuman tidak seharusnya menjadi satu-satunya pertimbangan ketika menilai kualitas gizinya.
Bagian yang Perlu Diperhatikan
Salah satu aspek paling penting dalam menikmati Matcha Ube Latte adalah jumlah gula tambahan. WHO merekomendasikan konsumsi free sugars kurang dari 10% dari total energi harian. Pada pola makan 2.000 kkal per hari, angka tersebut setara dengan sekitar 50 gram atau 12 sendok teh gula. WHO juga menyebutkan bahwa pengurangan hingga di bawah 5% dapat memberikan manfaat kesehatan tambahan. Di Indonesia, Kementerian Kesehatan juga menggunakan batas konsumsi gula maksimal 50 gram per orang per hari atau sekitar empat sendok makan. Konsumsi gula, garam, dan lemak secara berlebihan dapat meningkatkan risiko berbagai penyakit tidak menular, termasuk obesitas, diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung. Artinya, batas tersebut tidak hanya perlu diperhitungkan dari satu jenis makanan. Gula yang berasal dari kopi susu, teh manis, dessert, camilan, saus, hingga minuman seperti Matcha Ube Latte tetap masuk ke dalam konsumsi harian.
Mengapa Minuman Manis Perlu Mendapat Perhatian?
Minuman berpemanis memiliki karakteristik yang berbeda dengan makanan padat. WHO menjelaskan bahwa minuman berpemanis dapat mengandung gula dalam jumlah tinggi sekaligus memberikan energi dengan nilai gizi yang relatif rendah. Konsumsi minuman berpemanis yang lebih tinggi juga berkaitan dengan peningkatan risiko kenaikan berat badan tidak sehat.
CDC Tahun 2026 juga menyebutkan bahwa konsumsi minuman berpemanis secara sering berkaitan dengan sejumlah masalah kesehatan, termasuk peningkatan berat badan, obesitas, diabetes tipe 2, penyakit jantung, kerusakan gigi, dan gout. Karena itu, Matcha Ube Latte sebaiknya tidak ditempatkan dalam kategori sehat atau tidak sehat hanya berdasarkan bahan utamanya. Jumlah dan jenis bahan tambahan menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan.
Matcha Ube Latte Tidak Selalu Sama Kandungannya
Satu hal yang menarik tetapi sering tidak diketahui adalah tidak adanya satu standar resep untuk Matcha Ube Latte. Dua minuman dengan nama yang sama dapat memiliki kandungan gizi yang berbeda. Perbedaan tersebut dapat berasal dari beberapa komponen berikut:
1. Jumlah Sirup Ube
Sirup ube biasanya digunakan untuk memberikan rasa dan warna yang lebih kuat. Jika sirup mengandung gula tambahan, semakin banyak penggunaannya, semakin besar pula kontribusi gula pada minuman.
2. Jenis Susu
Susu sapi, susu rendah lemak, susu nabati, atau krimer dapat memberikan komposisi gizi yang berbeda. Pilihan susu juga dapat memengaruhi total energi dalam satu porsi.
3. Tingkat Kemanisan
Permintaan tingkat gula normal, less sugar, atau tanpa gula dapat menghasilkan perbedaan kandungan gula yang cukup berarti. Karena itu, pilihan tingkat kemanisan menjadi salah satu strategi sederhana untuk mengendalikan asupan gula.
4. Topping
Whipped cream, boba, jelly, foam, saus, dan berbagai topping tambahan dapat meningkatkan energi serta gula dalam satu minuman.
5. Ukuran Gelas
Ukuran porsi juga penting. Gelas berukuran lebih besar memungkinkan jumlah susu, sirup, dan bahan tambahan yang digunakan menjadi lebih banyak. Dengan kata lain, satu gelas Matcha Ube Latte belum cukup untuk menggambarkan kandungan gizinya. Komposisi dan ukuran porsi tetap menjadi kunci.
Cara Lebih Cerdas Menikmati Matcha Ube Latte
Tidak perlu menjadikan tren kuliner sebagai sesuatu yang harus dihindari. Sebelum membeli Matcha Ube Latte, perhatikan ukuran minuman, tingkat kemanisan, bahan tambahan, dan topping. Jika informasi gizi tersedia, gunakan informasi tersebut sebagai dasar pertimbangan. Kebiasaan kecil seperti memilih less sugar, mengurangi topping, atau tidak membeli minuman manis setiap hari dapat membantu menjaga pola konsumsi tetap lebih seimbang.
WHO merekomendasikan agar konsumsi karbohidrat lebih banyak berasal dari sumber seperti biji-bijian utuh, sayur, buah, dan kacang-kacangan, serta mendorong konsumsi minimal 400 gram sayur dan buah per hari pada orang dewasa. Jadi, Matcha Ube Latte dapat tetap menjadi bagian dari momen santai, sementara fondasi pola makan tetap berasal dari makanan yang lebih beragam dan bernutrisi.
Saatnya Tidak Hanya Mengikuti Tren, tetapi Memahami Apa yang Dikonsumsi
Matcha Ube Latte memang menarik secara rasa dan visual, tetapi kesehatan tidak dapat dinilai dari warna hijau matcha atau ungu ube saja. Jumlah gula, susu, sirup, topping, ukuran porsi, serta frekuensi konsumsi menjadi bagian yang perlu diperhatikan.
Menikmati minuman kekinian secara bijak merupakan bagian dari gaya hidup sehat yang realistis. Bukan tentang melarang makanan favorit, melainkan membangun kebiasaan untuk lebih sadar terhadap apa yang masuk ke dalam tubuh.
Untuk mendapatkan informasi kesehatan yang kredibel sekaligus mendukung upaya deteksi dini, kunjungi laboratorium medis CITO dan manfaatkan layanan pemeriksaan yang tersedia. Informasi kesehatan, layanan pemeriksaan, dan berbagai promo juga dapat diakses melalui aplikasi Beranda CITO serta WhatsApp Channel CITO.
Innovation For Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. 2026. “Fast Facts: Sugar-Sweetened Beverage Consumption.” CDC, 14 April 2026.
- Centers for Disease Control and Prevention. 2026. “Rethink Your Drink.” CDC, 5 Maret 2026.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2024. “Cegah Meningkatnya Diabetes, Jangan Berlebihan Konsumsi Gula, Garam, Lemak.” Kementerian Kesehatan RI, 31 Januari 2024.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. 2026. “Kemenkes Terbitkan Aturan Untuk Cegah Konsumsi Gula Berlebih.” Kementerian Kesehatan RI, 15 April 2026.
- World Health Organization. 2023. “Carbohydrate Intake for Adults and Children: WHO Guideline.” World Health Organization, 17 Juli 2023.
- World Health Organization. 2023. “Use of Non-Sugar Sweeteners: WHO Guideline.” World Health Organization, 15 Mei 2023.
- World Health Organization. 2023. “Reducing Consumption of Sugar-Sweetened Beverages to Reduce the Risk of Unhealthy Weight Gain in Adults.” World Health Organization, 9 Agustus 2023.
