Pernah merasakan nyeri ketika buang air kecil? Atau bahkan sering merasa ingin pipis, padahal urine hanya keluar sedikit? Jangan dianggap sepele. Bisa jadi itu gejala awal Infeksi Saluran Kemih atau biasa disebut ISK. Peningkatan frekuensi berkemih dapat menjadi salah satu indikasi Infeksi Saluran Kemih (ISK). Infeksi ini terjadi ketika mikroorganisme, terutama bakteri, masuk dan bereproduksi di saluran kemih. Infeksi dapat mengincar kandung kemih dan menyebar ke ginjal jika tidak ditangani dengan benar.
Infeksi saluran kemih merupakan salah satu infeksi paling umum di dunia. Kementrian Kesehatan Republik Indonesia Tahun 2026 mencatat sebanyak jutaan orang setiap tahunnya mengalami infeksi ini. Perempuan menjadi kelompok paling rentan terdampak kondisi ini. Sayangnya, banyak masyarakat yang belum menyadari infeksi saluran kemih bisa terjadi kepada siapapun.
Apa Itu Infeksi Saluran Kemih?
Infeksi Saluran Kemih (ISK) merupakan infeksi yang menyerang komponen sistem perkemihan, seperti ginjal, ureter, kandung kemih, dan uretra. Infeksi pada saluran kemih bagian bawah biasanya berhubungan dengan uretra atau kandung kemih, sedangkan infeksi yang menyebar ke ginjal bisa mengakibatkan kondisi yang lebih parah. Kemenkes Tahun 2025 menyebutkan bahwa Infeksi Saluran Kemih bisa disebabkan oleh mikroorganisme yang masuk ke dalam saluran kemih. Dalam kasus ISK, bakteri Escherichia coli atau E. coli adalah salah satu penyebab yang umum dijumpai. Berdasarkan lokasi infeksinya, terdapat dua jenis ISK:
- ISK atas: Infeksi yang sudah melibatkan ginjal. Kondisi ini perlu mendapatkan perhatian khusus dan perawatan intensif karena memengaruhi fungsi ginjal. Apabila tidak ditangani dengan serius akan menyebabka infeksi yang sangat parah.
- ISK bawah: Infeksi yang melibatkan kandung kemih dan uretra. Jenis ini umum terjadi dan masih dalam kategori ringan. Infeksi ini biasanya menimbulkan rasa nyeri saat buang air kecil maupun saat berkemih.
Penyebab dan Faktor Risiko Infeksi Saluran Kemih
Bakteri ini pada dasarnya berada di saluran pencernaan, tetapi dapat keluar bersamaan dengan tinja dan masuk ke saluran kemih, lalu berkembang biak di sana dan mengakibatkan infeksi pada kandung kemih.
Walaupun bisa menyerang siapa saja, infeksi saluran kemih lebih rentan terjadi pada individu yang memiliki faktor-faktor berikut:
- Berjenis kelamin perempuan
- Jarang merawat kebersihan alat vital
- Seorang ibu yang sedang mengandung
- Jarang mium air putih
- Memiliki gangguang pada sistem kemih sejak lahir
- Aktif rutin melakukan hubungan intim
- Memanfaatkan alat kontrasepsi seperti diafragma atau kondom yang disertai pelumas spermisida.
- Penderita dibates dan seseorang yang sedang menjalani kemoterapi
Mengapa Perempuan Lebih Rentan Terdampak?
Kelompok perempuan lebih berisiko terkena Infeksi Saluran kemih (ISK) dibandingkan dengan laki-laki. Hal ini terjadi karena adanya faktor anatomi. Dimana uretra perempuan lebih pendek, sehingga bakteri cepat menyebar ke kandungan kemih. Selain itu, ada beberapa faktor lain seperti:
- Hamil: Perubahan hormonal selama masa kehamilan menyebabkan perubahan pada saluran kemih serta tekanan fisik dimana usia kandungan yang semakin besar sehingga aliran urin bisa terhambat
- Aktivitas seksual: Aktivitas seksual dapat memfasilitasi pergerakan bakteri dari area sekitar anus ke saluran uretra. Itulah sebabnya ISK sering disebut honeymoon cystitis pada wanita yang baru mulai menjalani kehidupan seksual.
- Menopause: Penurunan kadar estrogen setelah menopause mengubah keseimbangan flora normal di sekitar vagina dan uretra, sehingga area ini menjadi lebih mudah terpapar bakteri.
- Kebiasaan Menahan Buang Air Kecil: Penurunan kadar estrogen setelah menopause mengubah keseimbangan flora normal di sekitar vagina dan uretra, sehingga area ini menjadi lebih mudah terpapar bakteri.
Gejala Infeksi Saluran Kemih
Setiap orang memiliki gejala yang berbeda-beda, tergantung pada bagian saluran kemih yang mengalami infeksi. Beberapa keluhan yang sering muncul secara bersamaan. Berikut gejala yang perlu diperhatikan:
1. Intensitas Buang Kecil Besar
Keinginan untuk buang air kecil dapat muncul lebih sering dari biasanya, bahkan segera setelah selesai buang air kecil. Dalam keadaan ini, urine yang dihasilkan kadang-kadang hanya sedikit. Kebutuhan untuk sering berkemih bisa disebabkan oleh iritasi serta peradangan pada saluran kemih.
2. Rasa Perih saat Pipis
Sensasi terbakar, nyeri, atau panas saat berkemih adalah salah satu gejala yang sering dijumpai pada Infeksi Saluran Kemih. Perasaan tidak enak ini bisa muncul setiap kali berkemih dan semakin mengganggu saat infeksi berlanjut.
3. Urine Tampak Keruh
Perubahan pada ciri-ciri urine juga harus diperhatikan. Urine bisa tampak lebih keruh atau memiliki aroma yang lebih tajam dari biasanya. Meskipun perubahan pada urine tidak selalu menunjukkan adanya Infeksi Saluran Kemih, gejala ini perlu diperhatikan jika muncul bersamaan dengan gejala lain.
4. Nyeri pada Perut Bagian Bawah
Infeksi pada kandung kemih dapat menyebabkan ketidaknyamanan, tekanan, atau rasa sakit di daerah perut bagian bawah. Sensasi itu bisa terasa terus-menerus atau muncul bersamaan dengan keinginan untuk berkemih.
5. Ada Darah pada Urine
Dalam beberapa kasus, urine dapat berwarna merah, pink, atau nampak mengandung darah. Hal ini bisa terjadi akibat iritasi atau inflamasi pada saluran kemih. Kehadiran darah dalam urine tidak boleh diabaikan karena dapat disebabkan oleh berbagai kondisi dan memerlukan pemeriksaan untuk menemukan penyebabnya.
6. Demam dan Menggigil
Demam dan menggigil bisa muncul saat infeksi berkembang dan melibatkan bagian atas saluran kemih. Situasi ini seharusnya tidak dianggap remeh, terutama bila disertai dengan rasa sakit di pinggang atau punggung.
Cara Diagnosis Infeksi Saluran Kemih
Tanda-tanda bisa memberikan indikasi awal, tetapi evaluasi diperlukan untuk membantu mengkonfirmasi diagnosis dan menetapkan perawatan yang tepat. Kemenkes Tahun 2025 menjelaskan bahwa tes dapat mencakup urinalisis untuk mengidentifikasi tanda-tanda seperti bakteri, darah, atau sel nanah dalam urine. Dalam situasi tertentu, dokter mungkin juga merekomendasikan kultur urine untuk mengidentifikasi bakteri penyebab dan membantu menilai sensitivitas terhadap antibiotik. Tenaga kesehatan dapat menetapkan diagnosis berdasarkan gejala, pemeriksaan fisik, dan analisis urine jika diperlukan.
Pemeriksaan urine menjadi aspek penting karena frekuensi buang air kecil tidak selalu menunjukkan Infeksi Saluran Kemih. Faktor lain dapat memicu gejala yang mirip, sehingga diagnosis sebaiknya tidak dilakukan hanya berdasarkan dugaan.
Cara mencegah Infeksi Saluran Kemih (ISK)
ISK dapat dicegah dengan melakukan langkah-langkah berikut ini:
- Penuhi kebutuhan air setiap hari. Mengonsumsi air putih dalam jumlah yang memadai, sebaiknya sekitar 8 gelas setiap hari, berkontribusi pada pengurangan jumlah bakteri dalam urin serta mendukung proses pencucian secara alami.
- Buang air kecil setelah berhubungan seksual. Kebiasaan sederhana ini efektif membantu mengeluarkan kuman yang mungkin masuk ke uretra saat aktivitas seksual berlangsung.
- Bersihkan daerah vital. Selalu bersihkan dari depan ke belakang (dari vagina ke anus, bukan sebaliknya) untuk menghindari perpindahan bakteri dari saluran cerna ke uretra.
- Tidak memakai produk pembersih yang sangat kuat. Sabun antiseptik yang mengandung bahan kimia keras atau produk dengan aroma menyengat pada area genital dapat mengganggu keseimbangan flora alami yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh.
- Hindari menahan buang air kecil terlalu lama. Segera buang air kecil ketika tubuh sudah memberikan tanda, terutama setelah melakukan aktivitas fisik yang berat atau mengonsumsi banyak cairan.
- Gunakan pakaian dalam yang terbuat dari katun. Material yang menyerap keringat dan tidak terlalu ketat membantu menjaga area genital tetap kering dan bersih, menurunkan risiko pertumbuhan bakteri.
Jangan Anggap Sepele, Kenali Tandanya Sejak Dini
Sudah berkemih namun ingin buang air kecil lagi, terutama bila disertai rasa nyeri, perubahan urine, atau nyeri di bagian perut bawah, dapat menjadi indikasi Infeksi Saluran Kemih. Keadaan ini harus diidentifikasi sejak dini karena infeksi bisa berkembang dan menyebar ke ginjal.
Memastikan kecukupan cairan, menjaga kebersihan, tidak mengabaikan tanda-tanda, serta menggunakan antibiotik dengan benar adalah bagian dari usaha menjaga kesehatan saluran kemih. Apabila keluhan muncul kembali atau disertai gejala yang mencemaskan, pemeriksaan medis bisa menjadi pilihan yang tepat untuk mengetahui penyebabnya.
Untuk menunjang gaya hidup sehat, pemeriksaan kesehatan bisa dilakukan di Laboratorium Medis CITO. Aplikasi Beranda CITO dan WhatsApp Channel CITO menyediakan informasi layanan pemeriksaan, edukasi kesehatan, dan berbagai promo. Jadikan pemeriksaan kesehatan sebagai bagian dari kebiasaan, bukan hanya saat gejala sudah muncul.
Innovation For Happiness
REFERENSI
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Urinary Tract Infection Basics.
- Centers for Disease Control and Prevention. (2024). Catheter-Associated Urinary Tract Infections (CAUTI) Prevention Guideline.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Infeksi Saluran Kemih, Keputusan Menteri Kesehatan Nomor HK.01.07/MENKES/762/2025.
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Kenali Apa Itu Infeksi Saluran Kemih. Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan
- Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Mengenal Infeksi Ginjal (Pielonefritis). Direktorat Jenderal Kesehatan Lanjutan.
- World Health Organization. (2024). WHO Bacterial Priority Pathogens List, 2024. Geneva: World Health Organization.
- World Health Organization. (2022). Report Signals Increasing Resistance to Antibiotics in Bacterial Infections in Humans and Need for Better Data. Geneva: World Health Organization.
