ilustrasi Hasil Diet Belum Maksimal? Kenali Kebutuhan Nutrisi melalui Tes Nutrigenomik CITO

Sudah melakukan pengaturan pola makan, mengurangi porsi, bahkan rajin berolahraga, tetapi hasil diet belum optimal? Keadaan ini bisa menjadikan perjalanan menuju berat badan yang ideal terasa lebih sulit. Akan tetapi, perubahan berat badan tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dimakan. Nutrisi yang baik, berolahraga, tidur yang berkualitas, keadaan kesehatan, serta faktor herediter juga dapat berpengaruh.Setiap tubuh memiliki sifat yang berbeda dalam merespons makanan dan gaya hidup. Oleh karena itu, strategi diet yang efektif bagi satu individu belum tentu memberikan hasil yang sama bagi individu lainnya. Mengetahui kebutuhan tubuh secara lebih individual bisa jadi langkah pertama untuk menilai pola makan, termasuk dengan memahami tes nutrigenomik CITO sebagai salah satu metode yang berbasis informasi genetik.

Mengapa Hasil Diet Belum Maksimal?

Hasil dari diet yang belum optimal tidak selalu menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan menjadi percuma. Perubahan massa tubuh dipengaruhi oleh keseimbangan energi, rutinitas sehari-hari, keadaan metabolisme, serta berbagai faktor biologis dan lingkungan. WHO menjelaskan bahwa kelebihan berat badan dan obesitas adalah kondisi rumit yang dipengaruhi oleh interaksi berbagai faktor. Faktor lingkungan, kebiasaan makan, tingkat aktivitas fisik, aspek sosial, dan sifat biologis berkontribusi pada perkembangan kondisi itu.

Oleh karena itu, program diet tidak hanya fokus pada besar kecilnya angka berat badan. Pola makan yang tepat, kecukupan zat gizi, aktivitas fisik, hingga kondisi kesehatan secara keseluruhan juga perlu diperhatikan. Beriku pengebab mengapa hasil diet belum maksimal:

1. Metabolisme Tubuh Lambat

Pada saat tubuh terus kekurangan asupan kalori, tuubuh akan berdaptasi dengan cara menghemat energi. Dampaknya, beberapa hal berikut bisa terjadi pembakaran energi bisa menurun, rasa lapar dan keinginan makan bisa meningkat, penumpukan lemak tubuh menjadi lebih mudah terjadi, serta tubuh mudah lelah karena energi yang tersedia semakin terbatas.

2. Pola Makan Belum Tepat

Dengan mengurangi hanya mengurangi porsi makan, tidak cukup untuk mencapai hasil diet yang optimal. Tubuh tetap membutuhkan asupan nutrisi yang seimbang sesuai kebeutuhannya. WHO Tahun 2024 mengatakan bahwa pentingnya kecukupan, keseimbangan, moderasi, dan variasi dalam asupan makanan. Prinsip ini mendukung kesehatan sekaligus mengurangi risiko penyakit yang tidak menular. Maka dari itu, tubuh tetap membutuhkan protein yang cukup untuk menjaga masa otot, karbohidrat dan lemak sbegaia sumber energi bagi tubuh, makanan atau minuman yang mengandung serat demi menjaga rasa kenyang dan kesehatan pencernaan, serta kandungan kalori dengan menyesuaikan asupan energi sesuai kebutuhan tubuh.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: CITO Hadirkan Pemeriksaan Nutrigenomik untuk Sesuaikan Pola Makan Berdasarkan Genetik

3. Tidak Rutin Berolahraga

Olahraga membantu membakar energi dan menjaga masa otot. Apabila aktivitas harian masih rendah, hasil diet bisa kurang optimal. Adapun manfaat berolahraga yaitu:

  • Membantu meningkatkan penggunaan energi tubuh
  • Mendukung komposisi tubuh yang lebih sehta
  • Membantu pengelolaan berat badan jika dilakukan secara rutin dan diimbangi pola makan seimbang

Kegiatan fisik berkontribusi pada peningkatan pemakaian energi dan mendukung kesehatan jantung, otot, serta metabolisme tubuh. WHO menyarankan orang dewasa melakukan aktivitas fisik aerobik dengan intensitas sedang antara 150–300 menit setiap minggu atau aktivitas dengan intensitas tinggi selama 75–150 menit setiap minggu, tergantung pada kemampuan dan kondisi kesehatan.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Olahraga Ringan untuk Pekerja Kantoran: Cara Tetap Fit Meski Duduk Seharian

4. Belum Memahami Kebutuhan Nutrisi Tubuh

Respond tubuh terhadap nutrisi dapat dipengaruhi faktor genetik. Tes nutrigenomik membantu mengenali variasi genetik sebagai panduan menyusun pola makan yang tepat. Dengan tes nutrigenomik, kita dapat emmahami variasi respon tubuh terhadap zat gizi tertentu, menjadi pertimbangan dalam menentukan kebutuhan nutrisi berdasarkan profil genetik, membantu perencanaan pola makan lebih terarah bersama tenaga profesional.

5. Faktor Genetik

Hal yang sering kali diabaikan dalam proses diet adalah variasi karakteristik genetik. Gen memiliki peran dalam berbagai proses biologis, termasuk mekanisme yang berhubungan dengan metabolisme nutrisi, pengendalian nafsu makan, dan pemanfaatan energi. Akan tetapi, faktor genetik tidak beroperasi secara mandiri. Dampaknya berinteraksi dengan faktor lingkungan, pola makan, aktivitas tubuh, dan aspek kesehatan lainnya. Oleh karena itu, perbedaan hasil diet antara dua individu yang memiliki pola makan mirip tidak dapat segera disimpulkan sebagai akibat dari faktor genetik. Pendekatan ini merupakan salah satu landasan berkembangnya nutrigenomik, yaitu ilmu yang mengkaji hubungan antara variasi genetik dan respons tubuh terhadap nutrisi.

Apa Itu Tes Nutrigenomik?

Tes nutrigenomik adalah analisis yang mengkaji hubungan antara variasi genetik dan reaksi biologis terhadap nutrisi. Informasi itu dapat membantu memberikan gambaran tentang karakteristik tertentu yang terkait dengan kebutuhan gizi dan reaksi tubuh terhadap pola makan. Dalam pengelolaan berat badan, data genetik dapat jadi salah satu pertimbangan dalam merancang pendekatan nutrisi yang lebih sesuai dengan individu. Walaupun begitu, hasil uji tidak secara langsung menentukan pilihan menu terbaik, menjamin penurunan berat badan, atau menggantikan penilaian kesehatan oleh tenaga ahli.
Penting untuk membedakan nutrigenomik dari pemeriksaan kesehatan biasa. Pemeriksaan laboratorium konvensional dapat menunjukkan keadaan tubuh melalui parameter tertentu, sedangkan tes nutrigenomik memusatkan perhatian pada informasi variasi genetik yang dianalisis dalam pemeriksaan tersebut. Oleh karena itu, tes nutrigenomik seharusnya dianggap sebagai informasi tambahan untuk memperkuat pengambilan keputusan mengenai pola makan, bukan sebagai satu-satunya dasar dalam menetapkan program diet.

πŸ‘‰πŸ»Baca Juga: Pemeriksaan Nutrigenomik CITO: Kenali Pola Makan Sesuai Genetik

Mengenal Kebutuhan Nutrsi Secara Lebih Personal

Bagi individu yang merasa hasil diet belum optimal, mengenali karakteristik tubuh bisa menjadi langkah untuk menilai metode yang telah diterapkan selama ini. Tes nutrigenomik CITO dapat dianggap sebagai salah satu opsi untuk mendapatkan informasi mengenai variasi genetik yang berkaitan dengan nutrisi, sesuai dengan ruang lingkup pemeriksaannya. Pendekatan yang mengandalkan informasi genetik memberikan peluang untuk memahami kebutuhan nutrisi dari sudut pandang yang lebih individual. Informasi ini bisa dimanfaatkan sebagai bahan perbincangan dengan tenaga kesehatan dalam mengevaluasi susunan makanan, pola hidup, dan rencana pengaturan berat badan. Walaupun begitu, keuntungan praktis dari tes tergantung pada tipe variasi genetik yang dianalisis, validitas data ilmiah untuk masing-masing indikator, serta cara hasilnya ditafsirkan. Tidak semua penemuan genetik memiliki nilai klinis yang sama signifikannya. Sebelum melakukan pemeriksaan, sangat penting untuk mengetahui lingkup tes, jenis informasi yang akan didapat, serta cara hasilnya bisa diterapkan dalam perencanaan nutrisi.

Bagaimana Memanfaatkan Hasil Pemeriksaan?

Informasi genetik akan lebih bermanfaat ketika dipadukan dengan evaluasi pola makan, aktivitas fisik, dan kondisi kesehatan. Hasil tes tidak perlu dijadikan alasan untuk menghindari kelompok makanan tertentu tanpa dasar yang jelas. Beberapa langkah berikut dapat menjadi bagian dari pendekatan yang lebih terarah.

1. Evaluasi Pola Makan

Catat pola konsumsi, mencakup jenis makanan, ukuran porsi, minuman, makanan ringan, dan waktunya. Catatan tersebut bisa membantu mengenali kebiasaan yang mungkin perlu diperbaiki. Selanjutnya, tinjau kecukupan protein, serat, sayuran, buah-buahan, serta sumber karbohidrat dan lemak. Pola makan yang disesuaikan seharusnya memperhatikan kebutuhan energi dan nutrisi, bukan sekadar berfokus pada penurunan berat badan yang cepat.

2. Gunakan Informasi Genetik Sebagai Data Pendukung

Ketika menjalani tes nutrigenomik, diskusikan hasilnya dengan profesional kesehatan yang berpengalaman. Data genetik dapat memperdalam pemahaman tentang ciri-ciri fisik, tetapi tidak dapat menggantikan evaluasi terhadap kesehatan yang sebenarnya. Hindari melakukan perubahan drastis pada pola makan hanya karena satu hasil genetik. Rekomendasi yang diimplementasikan harus memperhatikan bukti ilmiah, kebutuhan gizi, selera makanan, dan kondisi kesehatan.

3. Bangun Kebiasaan Konsisten

Keberhasilan pengelolaan berat badan tidak hanya ditentukan oleh program diet jangka pendek. Kebiasaan makan seimbang, aktivitas fisik teratur, tidur cukup, serta pemantauan perkembangan secara berkala lebih relevan untuk mendukung kesehatan dalam jangka panjang. WHO menekankan pentingnya aktivitas fisik yang dilakukan secara teratur untuk mendukung kesehatan dan membantu mengurangi risiko berbagai penyakit tidak menular.

4. Pantau Perkembangan Secara Menyeluruh

Angka di timbangan bukanlah satu-satunya tanda perkembangan. Pengubahan ukuran lingkar pinggang, kebugaran fisik, kualitas tidur, kapasitas untuk beraktivitas, serta indikator kesehatan lainnya bisa dijadikan bahan penilaian sesuai kebutuhan. Jika berat badan tidak mencapai target atau ada keluhan selama diet, berkonsultasi dengan dokter atau ahli gizi dapat membantu menemukan faktor yang perlu diperiksa.

Saatnya Ubah Cara Diet, Bukan Sekedar Mengurangi Porsi

Hasil diet yang belum optimal dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti komposisi makanan, keseimbangan energi, aktivitas fisik, kualitas tidur, dan karakteristik biologis. Karena setiap tubuh memiliki kebutuhan yang unik, strategi diet seharusnya tidak sekadar mengikuti tren, melainkan juga memperhatikan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu. Nutrigenomik CITO Anda dapat menjadi salah satu alternatif untuk memahami variasi genetik yang berhubungan dengan nutrisi. Informasi tersebut bisa dimanfaatkan sebagai referensi dalam merencanakan pola makan yang lebih individual, dengan tetap mengedepankan bukti ilmiah dan dukungan tenaga kesehatan. Awali perjalanan diet dengan mengenali kebutuhan tubuh secara lebih mendalam. Datangi Laboratorium Medis CITO untuk memperoleh informasi tentang layanan pemeriksaan, akses aplikasi Beranda CITO untuk menjelajahi layanan serta informasi kesehatan, dan ikuti WhatsApp Channel CITO untuk mendapatkan info promo dan layanan pemeriksaan terkini. Transformasi yang berkelanjutan tidak perlu diawali dengan pembatasan yang ketat. Langkah yang lebih bijaksana adalah mengenali keadaan tubuh, memilih pola hidup yang realistis, dan melaksanakannya dengan konsisten.

Β 

Innovation For Happiness

REFERENSI
  • Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Panduan Gizi Seimbang dan Edukasi Kesehatan. Portal Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
  • World Health Organization. (2020). WHO Guidelines on Physical Activity and Sedentary Behaviour. Geneva: World Health Organization.
  • World Health Organization. (2024). Healthy Diet. World Health Organization.
  • World Health Organization. (2024). Obesity and Overweight. World Health Organization.